Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tari Topeng Endel |
Sejarah:
Untuk mengungkap asal-usul Tari Topeng perlu penelitian yang cukup panjang dengan membaca kembali literatur yang mungkin masih ada baik yang di dalam negeri maupun di luar negeri.
Menurut pengamatan dari beberapa kalangan menyebutkan bahwa tatkala Kerajaan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk, Nusantara sampai ke Semenanjung Malaka, termasuk daerah Tegal menjadi daerah jajahannya. Pada masa itu Majapahit menjadi pusat pemerintahan, segala kegiatan baik bidang pemerintahan, hukum dan perundang-undangan, ilmu pengetahuan, sosial politik, pertanian, pelayaran, keagamaan, keamanan, kebudayaan termasuk kesenian dan lainnya berkembang pesat.
Setiap tahun di kerajaan Majapahit di selenggarakan keramaian untuk memperingati penobatan raja. Masing-masing daerah jajahan mengirimkan duta seni yang terkenal di daerahnya. Mereka menampilkan kebolehannya di hadapan Raja Hayam Wuruk. Namun dari berbagai jenis kesenian yang ditampilkan hanya Tari Topeng yang digemari oleh raja. Mengetahui hal tersebut para pakar seni berusaha mengembangkan Tari Topeng dan kesenian lainnya ke penjuru pelosok daerah jajahan sehingga dalam waktu yang singkat Tari Topeng sangat terkenal.
Apabila raja beranjangsana ke daerah-daerah maka di daerah yang di kunjungi menampilkan kesenian yang menjadi kegemaran raja dengan penari-penari yang masih muda dan cantik jelita sebagai salah satu bentuk penghormatan rakyat terhadap rajanya. Sesudah hayam Wuruk wafat, diakhir kemudian kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan karena kerabat kerajaan saling berebut kekuasaan.
Keturunan raja terakhir Majapahit mendirikan kerajaan Islam di utara pantai Jawa beribu kota di Demak dan bersamaan itu pula berkembang kebudayaan yang bernafaskan Islam, dalam waktu relatif singkat meluas ke daerah-daerah bekas jajahan Majapahit seiring dengan pengembangan agama Islam yang dibawakan oleh penganutnya. Berbagai kesenian tradisional yang dahulunya maju, dikemudian hari mulai surut diataranya Tari Topeng, Ronggeng, Doger, Kuda Lumping dan lainnya. Peninggalan budaya dan kesenian Majapahit yang masih dapat dijumpai di daerah Tegal, antara lain: Tari Topeng di daerah Slarang Lor, Kecamatan Dukuhwaru, Lontar bergambar wayang di Desa Danareja, Kecamatan Marasari., Kuda Lumping di Desa Dukuhwaru, Kecamatan Dukuhwaru, Wayang kulit di Desa Pagiyanten, Kecamatan Adiwerna., Kentrung di Desa Bogares Lor, Kecamatan Pangkah., Arca Lembu Nandi di Desa Kalisalak, Kecamatan Margasari., Wayang Golek di Desa Pagiyanten, Kecamatan Adiwerna, Gamelan di Desa Balamos, Kecamatan Pangkah., Pondasi Bangun Candi di Desa Selapura, Kecamatan Dukuhwaru. Dari uraian di atas kiranyan dapat disimpulkan bahwa Tari Topeng yang sekarang ini masih ada di daerah Tegal berasal dari Majapahit, mengingat rajanya sendiri penggemar Tari Topeng.
Deskripsi:
Tari Topeng Gaya Tegal merupakan jenis kesenian tradisional khas Tegal yang tidak ada duanya, penarinya menggunakan topeng berbentuk lukisan wajah manusia yang menampilkan ekspresi dari watak perangai tokoh yang diperankan, sedang gerak tarinya menyesuaikan dengan lukisan wajah topeng tersebut. Pada umumnya ciri khas Tari Topeng Gaya Tegal terletak pada gerak tari, pahatan topengnya maupun iringan karawitannya. Pahatan topengnya cukup halus, sederhana, lugu dan lucu, raut wajahnya kebanyakan mirip dengan wajah tokoh-tokoh wayang golek, sedangkan iringan karawitannya menggunakan gendhing-gendhing khas Tegal dimana peran kendang sangat dominan sehingga berhasil tidaknya pentas Tari Topeng Gaya Tegal sebagian besar tergantung pada kelincahan pengendang dalam memainkan kendangnya.
Tari Topeng Gaya Tegal pada umumnya ada 12 (dua belas) macam, namun pada saat ini tinggal 6 (enam) macam yang masih dapat diartikan antaranya :
1. Tari Topeng Endel, warna topeng putih dengan bentuk wajah cantik yang menyungging senyum, gending pengiringnya adalah lancaran ombak banyu laras slendro patet manyuro.
2. Tari Topeng Kresna, warna topeng merah jambu dengan bentuk wajah tampan, gending pengiringnya adalah lancaran lelenderan naik lancaran praliman.
3. Tari Topeng Panji, warna topeng putih dengan bentuk wajah bagus, gending pengiringnya adalah lancaran gunungsari laras slendro patet 6 (enem).
4. Tari Topeng Kiprahan Patih, warna topeng merah tua dengan bentuk wajah sangar, gending pengiringnya adalah lancaran blendrong laras slendro patet manyuro.
5. Tari Topeng Lanyapan Alus, warna topeng kuning gading dengan bentuk wajah bagus, gending pengiringnya adalah lancaran langon semarangan laras slendro patet 6 (enem).
6. Tari Topeng Kelana, warna merah tua dengan bentuk wajah garang, gending pengiringnya adalah lancaran truntung laras slendro patet manyuro.
Tari topeng lainnya yang tersisa jumlahnya 6 (enam) macam tidak dapat ditarikan atau diperagakan lagi karena penarinya yang bernama Ibu Warmi atau dikenal sebutan Ronggeng Warmi sudah tua.