Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | RUMAH DHURUNG - Gresik, Jawa Timur |
Di Bawean, rumah adat mereka bisa diketahui dengan keberadaan dhurung. Dhurung adalah nama dari sebuah gubuk tak berdinding yang terbuat dari kayu atau bambu. Atapnya berupa rumbai yang terbuat dari daun pohan yang dalam bahasa Bawean disebut pohon dheun. Dalam tradisi masyarakat Bawean, Dhurung ini digunakan sebagai tempat beristirahat, menghilangkan lelah sehabis pulang dari sawah atau ladang.Dhurung merupakan tempat sosialisasi antara warga masyarakat dan para tamu. Bahkan, tak jarang, digunakan sebagai tempat untuk mencari jodoh. Biasanya, tempat ini diletakkan di depan atau di samping rumah. Terkadang, jika ukurannya besar, dhurung ini berfungsi ganda. Selain fungsi di atas, separuhnya atau di bagian atasnya dibuat sebagai lumbung padi.
Dhurung punya nilai seni ukir yang indah dan sulit ditiru, serta berfungsi serba guna, yaitu sebagai ‘lumbung’ tempat penyimpanan padi dan tempat beristirahat. Ini disebabkan, bangunan dhurung biasanya bersatu, antara tempat istirahat dan tempat penyimpanan padi. Sebagai tempat penyimpanan padi, dhurung juga dilengkapi jhelepang -semacam jebakan yang tidak bisa dilewati tikus sebagai hama pengganggu tanaman padi. Hanya saja, saat ini keberadaan dhurung di Pulau Bawean sudah jarang terlihat.
Mengapa, karena sekarang sesuai dengan perkembangan zaman, kebanyakan anak muda sudah mulai meninggalkan tradisi leluhur yang menyangkut rumah-rumah adat dhurung itu. Mereka mulai meninggalkan tradisi membangun dhurung sebab tidak memiliki area sawah untuk menyimpan padi, serta lahan tempat tinggalnya yang terlalu sempit. Selain dhurung, rumah kuno di Pulau Bawean sebagian besar sudah terjual kepada pembeli dari luar untuk dipasarkan ke mancanegara. Semakin langkanya bangunan dhurung itu, bisa disebabkan oleh makin makin sulitnya mendapatkan kayu untuk membuat dhurung. Belum lagi, ditambah dengan ketersediaan lahan untuk meletakkan dhurung yang membutuhkan area luas.