Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Koprekan
Sejarah: Lagu (alm) Mbah Surip berjudul ”Tak Gendong” dan ”Bangun Tidur” menjadi lagu resmi membangunkan sahur. Kedua lagu tersebut, dinyanyikan beberapa kelompok remaja di bilangan Kalideres bersama teriakan Sahur..Sahur. Sebait lirik ”Bangun Tidur” yaitu ”Woi bangun..kerja...ha..ha..ha../bangun tidur..tidur lagi..bangun lagi...tidur lagi...bangun...tidur lagi...ha..ha..ha..” kemudian diplesetkan menjadi ”Woi bangun..sahur..ha..ha.ha.../bangun tidur..langsung sahur..habis sahur shalat subuh..habis subuh..tidur lagi..ha..ha..ha” Ide menyanyikan lagu (alm) Mbah Surip ternyata cukup jitu, tidak hanya membuat banyak orang terbangun tanpa gerutu namun juga yang menanyikan tidak terasa lelah. Deskripsi: Hal yang sama juga dilakukan sekelompok anak muda di Tegal, Jawa Tengah. Para pemuda  di Kelurahan Randugunting, Tegal Selatan, menamakan kegiatan tersebut sebagai tradisi koprekan.Selain meneriakkan kata-kata Sahur..Sahur...juga menyanyikan lagu-lagu (alm) Mbah Surip. Mereka memakai alat musik pukul dan berbagai perabotan rumah tangga, seperti jeriken dan botol, serta kentongan. "Ini untuk membantu orang agar bisa berpuasa," tutur Apung (14), salah seorang anggota kelompok koprekan dari Gang Kuntul, Kelurahan Randugungting, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal. Tradisi koprekan sudah mulai mereka lakukan sejak sekitar lima tahun yang lalu. Anak-anak muda tersebut mengaku senang melakukannya karena bisa membantu sesama dalam menjalankan ibadah. Menurut tokoh budaya Kota Tegal, Atmo Tan Sidik, tradisi koprekan merupakan rekonstruksi nostalgia di masyarakat. Sebelum tahun 1986, tradisi membangunkan sahur di wilayah pantura, termasuk Kota Tegal, dilakukan dengan menggunakan mercon atau biasa disebut tradisi gur. Tradisi gur hanya dilaksanakan di pusat kota, seperti Masjid Agung. Selanjutnya mulai sekitar 1986, tradisi gur tergantikan dengan tradisi gugah sahur dug dag. Hampir setiap masjid melakukan tradisi dug dag, yaitu membangunkan sahur dengan menabuh bedug. Tradisi gugah sahur sempat berhenti sekitar tahun 1990 hingga 1995. Oleh karena itu, ia menilai, maraknya kembali tradisi koprekan sebagai sebuah rekonstruksi tradisi di masyarakat.