Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaRitual Pemandian Air Panas
Sejarah:           Guci, kawasan di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dikenal sebagai tujuan wisata yang cukup ramai. Berada di lereng Gunung Slamet dengan ketinggian 1.050 meter dari permukaan laut, Guci menyajikan panorama indah berbalut kesejukan alami udara pegunungan. Keistimewaan lain Guci yang terletak sekitar 40 kilometer selatan Kota Tegal ini adalah sumber air panas yang jernih dan tidak mengandung belerang. Menurut warga setempat, sumber air panas itu adalah satu-satunya sumber air panas di dunia yang tidak mengandung belerang. Guci adalah salah satu petilasan Sunan Gunung Jati saat menyiarkan agama Islam di Jawa Tengah bagian barat, tepatnya di sekitar Tegal. Di tempat itu, Sunan Gunung Jati ini meninggalkan sebuah guci (tempat air dari tembikar) agar masyarakat setempat dapat memanfaatkan airnya untuk keperluan sehari-hari, dan menyembuhkan segala penyakit. Karena air pemberian wali itu sangat terbatas, pada suatu malam Jumat Kliwon, Sunan menancapkan tongkat saktinya ke tanah. Kemudian muncullah sumber air panas tanpa belerang itu. Sejak itu, banyak orang datang dan mandi di tempat ini untuk mendapat berkah. Deskripsi: Ritual Pemandian Air Panas, bertujuan untuk mengharap berkah dan keberuntungan. Berbagai profesi mulai dari pedagang, petani, pegawai, pelajar, bahkan pekerja seks komersial datang ke Guci. Mereka memilih malam Jumat Kliwon untuk melaksanakan ritual karena hari itu diyakini dapat mengabulkan semua permintaan. Ritual yang berlangsung sejak zaman dahulu itu baru dikenal umum sekitar 1960. Upacara sakral itu dimulai dengan mendatangi rumah juru kunci atau kuncen sebagai syarat pertama untuk melakukan ritual mandi air panas. Saat ini, Kiai Syaiful Bahri yang hampir berusia 100 tahun dipercaya sebagai juru kunci generasi keempat di Guci. Setelah mendapatkan izin dari sang juru kunci, pengunjung diharuskan membeli sesajen berupa bunga melati yang biasa dijual penduduk di sekitar pemandian. Pengunjung kemudian dibawa ke suatu tempat khusus yang terletak tak jauh dari tempat pemandian. Di ruangan tersebut, mereka mengutarakan keinginannya. Diiringi serangkaian doa, sang juru kunci pun mulai membakar sebagian kembang yang dibawa pengunjung. Sisa melati yang telah didoakan lalu dibawa pengunjung ke lokasi pemandian air panas. Di tempat itu, mereka mandi dan membasuhi rambutnya sebagai wujud bersih diri. Mereka diminta untuk mandi dalam keadaan telanjang atau menggunakan pakaian seminim mungkin agar air yang dipercaya membawa keberuntungan itu bisa membasuh seluruh tubuh. Ritual pemandian itu sendiri dibagi menjadi dua tahap yaitu mandi di air panas Penyepuhan dan air panas Pengasihan. Tahap pertama diyakini dapat mengobati segala macam penyakit. Sedangkan mandi di air panas Pengasihan dipercaya dapat membantu mengabulkan permintaan pengunjung khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan, usaha, dan jodoh. Kepercayaan akan khasiat mandi air panas Penyepuhan dan Pengasihan telah mengundang warga dari berbagai daerah. Beberapa di antaranya bahkan sudah berulang kali menjalani ritual tersebut. Namun, kini muncul masalah baru dari upacara sakral yang telah berlangsung lama itu. Di satu sisi, ritual mandi air panas telah mendatangkan rezeki bagi masyarakat sekitar yang berdagang barang keperluan pengunjung. Namun di sisi lain, sebagian masyarakat merasa dirugikan karena ada orang yang memanfaatkan tempat ini sebagai ajang pelanggaran asusila. Mereka menilai sebagian pengunjung terutama kaum remaja sengaja datang ke tempat pemandian sekadar untuk melihat orang mandi tanpa busana. Tidak dapat dimungkiri, pelanggaran asusila hampir terjadi pada setiap tempat wisata tak terkecuali lokasi pemandian air panas Guci. Guna mengantisipasi terjadinya pelanggaran asusila yang dilakukan segelintir orang, warga sekitar dan Dinas Pariwisata setempat sepakat untuk menjaga kesucian tempat itu. Secara bersama-sama, warga dan petugas ikut memantau pelaksanaan ritual mandi air panas. Menurut Manajer Wisata Guci, Kusnadi, pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan ritual diharapkan dapat menjaga kesucian ritual itu sendiri sekaligus tidak membuka peluang terjadinya praktik prostitusi terselubung di kawasan wisata tersebut. Namun, pihaknya mengaku sering kecolongan karena tak bisa memantau seluruh kawasan Bagi warga Guci, aktivitas mandi bersama antara laki-laki dan perempuan di air panas sudah menjadi hal yang lumrah. Sejak dahulu, mereka tidak mempersoalkan aktivitas tersebut. Apalagi mandi di air panas adalah salah satu syarat untuk mengejar keberuntungan dan keberkahan. Namun, seiring dengan masuknya pengunjung dari daerah lain, para tokoh masyarakat dan tokoh agama di Desa Guci mulai khawatir akan munculnya tindakan asusila yang dilakukan sebagian pengunjung.