Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Tradisional Suran - Sawahan, Kab. Nganjuk, Jawa Timur |
Sejarah:
Desa Ngliman di samping memiliki beberapa air terjun juga memiliki tradisi yang menarik untuk diketahui, yaitu Upacara Tradisional Suran. Upacara tersebut berintikan penyucian terhadap benda-benda pusaka, pembagian air suci, dan ziarah ke Makam Kyai Ngliman.
Deskripsi:
Benda-benda pusaka dalam Upacara Tradisional Suran di Ngliman terdiri dari Kendi Pusaka, Senjata Pusaka, dan Wayang Pusaka. Bentuk dan besar Kendi Pusaka tidak berbeda dengan kendi pada umumnya. Terbuat dari tanah liat dengan tinggi kurang lebih 25 cm. Masyarakat Ngliman percaya bahwa Kendi Pusaka tersebut memiliki kesakralan, yaitu dapat mendatangkan perasaan tenteram dan rezeki apabila meminum airnya. Saking percayanya masyarakat maka apabila tidak bisa meminum airnya mereka cukup menyentuh kendinya saja sudah puas. Adapun air yang digunakan untuk mengisi Kendi Pusaka diambil secara khusus dari Air Terjun Sedudo yang diyakini sebagai air suci dan berkhasiat. Karena kesakralannya maka Kendi Pusaka ini hanya dikeluarkan satu tahun sekali, sedangkan pada hari-hari biasa kendi tersebut disimpan di dalam makam Kyai Ngliman. Adapun Senjata Pusaka yang digunakan untuk upacara berjumlah 4 buah, bernama Kyai Srabat, Kyai Endel, dan Kyai Kembar (2 buah). Kyai Srabat dan Kyai Endel berbentuk pedang, namun bagian pangkalnya bengkok seperti kapak. Memiliki lebar 6 cm dan panjang 30 cm. Sedangkan 2 buah pusaka yang bentuk dan besarnya sama, yaitu Kyai Kembar berbentuk mirip pisau biasa dengan ukuran panjang 15 cm dan lebar 2,5 cm. Wayang Pusaka yang dimaksud berupa wayang kayu atau wayang klitik atau wayang krucil, jumlahnya 3 buah, terbuat dari kayu jati. Ketiga wayang kayu ini menggambarkan seorang tokoh ksatria dengan dua orang punokawannya. Wayang Pusaka tersebut bernama Eyang Bondan, Eyang Jokotruno, dan Eyang Betik. Semua Wayang Pusaka itu sekarang disimpan di Gedhong Pusoko yang terletak di sebelah utara Masjid Ngliman. Sebelum dilaksanakan Upacara Tradisional Suran, jauh-jauh hari sebelumnya telah dilaksanakan tiga (3) upacara pendahuluan, meliputi: 1. Upacara Bukak Pundhen, yang dilaksanakan pada Bulan Ruwah (25 Ruwah). Pada upacara ini seluruh warga secara serempak mengadakan selamatan bersama. Untuk memudahkan berkumpul maka pelaksanaannya di kediaman Kamituwa pada dukuhnya masing-masing. Dalam selamatan ini tiap warga membawa berkat (ambeng), nasi gurih dengan ayam ingkung. Seusai acara Bukak Pundhen diteruskan dengan acara hiburan dan permainan untuk anak-anak. 2. Upacara Selamatan di Masjid Ngliman, merupakan rangkaian upacara ke-2 dalam Upacara Tradisional Suran. Dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal sesaat setelah Sholat Idul Fitri. Perlengkapan yang harus disediakan adalah 2 wadah berkat atau takir makanan; satu wadah berisi nasi kuning dan telur dadar, sedangkan satunya lagi berisi nasi ditambah kue-kue atau jajanan pasar. Setelah acara selamatan selesai, dilanjutkan dengan bersalam-salaman saling meminta maaf, dan bisa pula berlanjut dengan saling bertandang antar keluarga. 3. Upacara Selamatan Bersama di rumah Kepala Desa Ngliman, merupakan rangkaian upacara ke-3 dalam Upacara Tradisional Suran. Dilaksanakan pada Bulan Sura, dan merupakan puncak acara dari rangkaian sebelumnya. Pelaksanaan upacara ditetapkan dalam 3 pilihan hari, yaitu Jumat Legi, Jumat Wage, atau Senin Wage. Pemilihan didasarkan pada anggapan mana yang berbentuk bulan purnama (pedangulon Suro). Setelah terpilih hari baik, maka dilangsungkan selamatan di kediaman Kepala Desa Ngliman dengan membawa nasi gurih dan ayam ingkung. Setelah itu dilaksanakan siraman atau penyucian terhadap Kendi Pusaka, Senjata Pusaka, dan Wayang Pusaka. Seusai memandikan benda-benda pusaka, dilanjutkan pembagian air suci dari dalam Kendi Pusaka yang sehari sebelumnya telah diisi air dari Air Terjun Sedudo. Pembagian air suci dilaksanakan di makam Kyai Ngliman yang dilakukan oleh sesepuh desa dengan didampingi Juru Kunci Makam. Dalam acara ini mereka saling berebut untuk mendapatkan air suci walaupun hanya setetes. Kemudian acara dilanjutkan dengan ziarah ke makam Kyai Ngliman secara perorangan. Untuk sempurnya ziarah ke Makam Kyai Ngliman maka sebelumnya harus menyucikan diri di Air Terjun Sedudo. Dengan berakhirnya ziarah ke Makam Kyai Ngliman maka rangkaian Upacara Tradisional Suran telah selesai.