Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Siram Sedudo |
Sejarah:
Konon ceritanya kata Sedudo berasal dari kata “Se” dan “Dudo”. “Se” berarti satu, dan “Dudo” berarti orang yang sudah tidak punya istri atau sengaja tidak beristri lagi. Menurut kepercayaan penduduk, Sang Dudo tersebut adalah orang yang membuka atau menjadi cikal bakal Desa Ngliman. Sang Dudo tersebut memiliki kebiasaan mandi setiap hari di air terjun yang ada di Desa Ngliman. Kebiasaan mandi di air terjun tersebut kemudian diikuti oleh warga Desa Ngliman. Namun dalam pelaksanaannya, kebiasaan mandi yang sudah mentradisi tersebut tidak dilaksanakan setiap hari tetapi setahun sekali, dan kemudian disebut upacara mandi/siram. Menurut kepercayaan penduduk pula, air terjun tersebut dianggap suci dan mempunyai nilai magis yang tinggi. Oleh karena itu airnya digunakan dalam upacara Prana Prathista, yaitu upacara memandikan arca yang terdapat di Gunung Candrageni dan Candi Ngetos. Air yang dipercaya suci tersebut sengaja ditampung, kemudian dipercikkan kepada anggota keluarga, dengan harapan mendapatkan berkah dan keselamatan, kesehatan, awet muda, derajat, pangkat, dan kewibawaan. Mereka percaya bahwa air yang mengalir tak henti-hentinya tersebut bersumber dari tempat keramat, yaitu tempat bersemayamnya para dewa.
Deskripsi:
Upacara Mandi/Siram Sedudo diawali dengan sajian Tari Sakral yang dibawakan oleh lima (5) orang penari puteri. Masing-masing penari membawa tempat air yang terbuat dari tanah liat (klenting). Tari Sakral tersebut menggambarkan permohonan kepada Tuhan YME agar Upacara Mandi/Siram Sedudo berjalan lancar tanpa gangguan, dan membersihkan klenting agar terhindar dari segala macam kotoran. Tarian ini diiringi dengan alat musik jidor dan Tembang Sekar Mijil. Kemudian dari arah timur, limabelas (15) gadis berambut panjang dan mengenakan busana indah nan anggun, bak bidadari turun dari kahyangan, berjalan menuju ke hadapan Bupati. Selanjutnya kelimabelas gadis tersebut berlutut (jengkeng) sebagai tanda hormat atau sembah memohon doa restu. Bupati memberikan klenting kepada lima (5) orang gadis yang duduk di depan, masing-masing sebuah secara bergilir. Adapun klenting tersebut telah disiapkan oleh gadis yang berambut panjang di sebelah kiri Bupati. Setelah menerima klenting kelima gadis tersebut berdiri, kemudian berjalan perlahan-lahan diikuti oleh sepuluh (10) gadis lainnya menuju kolam (sendang) di bawah air terjun (grojogan) Sedudo, diiringi Tembang Ilir-Ilir yang dibawakan grup tembang dan tabuhan jidor. Setelah sampai di kolam lima (5) gadis tersebut menyerahkan klenting kepada lima (5) orang jejaka taruna yang sudah siap menunggu di bawah Air Terjun Sedudo. Kelima orang jejaka kemudian mengisi klenting dengan air dari grojogan, kemudian menyerahkan kembali kepada kelima orang gadis untuk dibawa ke tepi kolam (ke arah timur), diikuti oleh sepuluh (10) gadis lain dan lima (5) jejaka taruna. Air suci tersebut diserahkan kepada juru kunci makam Desa Ngliman yang telah siap bersama sesepuh desa setempat. Oleh juru kunci dan sesepuh desa, air suci tersebut dibawa ke atas, selanjutnya disimpan dimakam Desa Ngliman. Sedangkan kelima gadis dan jejaka taruna menuju ke tempat yang telah disediakan. Acara ritual ditutup dengan iringan Tembang Ilir-Ilir dan Lagu Slawatan. Acara selanjutnya sambutan dan peresmian Siram Sedudo oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Nganjuk. Sebelum acara mandi bersama dilaksanakan, dibacakan doa. Selesai mandi bersama dilanjutkan ziarah ke makam Kyai Ngliman.