Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kesenian Sandhur |
Sejarah:
Kesenian Sandhur saat ini tidak begitu dikenal lagi di masyarakat Nganjuk. Meskipun demikian, Kesenian Sandhur pernah memiliki masa lalu yang menggembirakan pada tahun 1947-1952. Mengenai waktu dan tempat munculnya Kesenian Sandhur untuk pertama kali tidak dapat ditentukan dengan pasti. Berdasarkan data yang ada, kesenian ini pernah ada dan berkembang pesat di daerah Ngluyu, Senggowar, dan Gondang. Ada beberapa pendapat mengenai waktu dan tempat munculnya Kesenian Sandhur. Ada yang berpendapat bahwa kesenian ini berasal dari daerah Ngluyu dan dikenal oleh masyarakat disana sejak tahun 1900. Pendapat yang lain menyatakan bahwa Kesenian Sandhur berasal dari Desa Senggowar, yaitu suatu desa yang terletak di sebelah utara Desa Gondang Kulon. Berawal dari seringnya menonton kesenian di Desa Senggowar, ada beberapa pemuda Gondang Kulon yang berhasrat untuk membentuk kelompok kesenian yang sama di desanya. Dalam perkembangan selanjutnya, Kesenian Sandhur di Nganjuk hanya tinggal satu perkumpulan yaitu di Desa Gondang Kulon, Kecamatan Gondang.
Deskripsi:
Inti cerita dari Kesenian Sandhur menggambarkan babat alas, yaitu pembukaan daerah baru, dan jika dikaitkan dengan daerah asalnya yang berupa kawasan hutan, maka tepatlah bila alur ceritanya tidak lepas dari upacara selamatan membuka hutan. Sejak awal kemunculannya hingga nyaris dilupakan orang saat ini, jalan cerita atau materi ceritanya tidak pernah berubah. Cerita dimulai dengan penggambaran ‘Petak’ untuk mencari pekerjaan, penebangan hutan, dan pernikahan Petak. Secara ringkas dapat diceritakan bahwa jalan cerita pada Kesenian Sandhur bermula dari kisah kakak beradik ‘Petak’ dan ‘Balong’ yang sedang bertengkar. Pertengkaran tersebut disebabkan mereka berebut siapa yang lebih tua usianya. Selanjutnya diketahui bahwa yang lebih tua usianya adalah ‘Petak’. Kemudian ‘Petak” berkeinginan untuk mengembara guna mendapatkan pekerjaan dan mengubah nasibnya. Di tengah perjalanan, ‘Petak’ bertemu dengan ‘Germo’ dan mendapatkan petunjuk agar pergi ke Hutan Sumedang Kawit. ‘Petak’ dianjurkan untuk menebang pohon-pohon di hutan sehingga lahannya dapat digunakan sebagai tempat tinggal dan area pertanian. Saat ‘Petak’ sedang menebangi pohon, muncullah ‘Raksasa Hutan’ dan menghalangi pekerjaannya, hingga terjadilah keributan diantara keduanya. Baik ‘Petak’ ataupun ‘Raksasa Hutan’ tidak ada yang mau mengalah, maka terjadilah perkelahian. Di akhir perkelahian ‘Raksasa Hutan’ berpesan pada ‘Petak’, yaitu bila ingin selamat dalam bekerja (membuka lahan-membabat hutan) maka diminta menyediakan sesaji sebanyak sebelas (11) jenis, meliputi sego wuduk wadhah ngaron, iwak pitik panggang utuh, sambel gebel, kupat lepet, jenang sengkala, karuk gringsing, degan sejodho, cunduk kembang, kembang setaman, kembang telon, kembang wangi dan beras kuning. ‘Petak’ menyangggupi dan menyediakan syarat-syarat tersebut. Setelah merasa aman, ia melanjutkan pekerjaannya menebang kayu. Cukup lama bekerja hingga ‘Petak’ merasa lelah, maka beristirahatlah dia dan terlelap. Dalam tidurnya ia bermimpi berjumpa dengan seorang wanita cantik. Saat terbangun, dengan penuh rasa tidak percaya, dihadapannya telah berdiri seorang wanita cantik yang ada di dalam mimpinya. Kemudian merekapun berkenalan. Wanita tersebut bernama ‘Cawik’. Timbullah niat dalam hati ‘Petak’ untuk mempersunting ‘Cawik’. Namun karena tidak memiliki bekal yang cukup untuk menikah, ‘Petak’ ingin mencuri kuda milik Lurah Karangdenowo. Ulah tidak terpuji ini membuat gempar warga Karangdenowo. Mereka mencari kuda Pak Lurah yang hilang, dan ternyata pencurinya adalah ‘Petak’. Selanjutnya ‘Petak’ ditangkap dan diserahkan kepada yang berwajib guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Setelah menyelesaikan masa hukumannya di penjara, ‘Petak’ kembali ke masyarakat dan bertemu lagi dengan ‘Cawik’. Ia kembali merajut kisah kasihnya dengan wanita pujaannya tersebut, dan sesuai janjinya dahulu tetap ingin mempersunting ‘Cawik’. Namun kini untuk biaya pernikahan dan membina rumahtangga ‘Petak’ menyadari bahwa jalan satu-satunya adalah bekerja keras. Setelah bekal untuk melangsungkan pernikahan memadai, pernikahan mereka pun dilangsungkan. Cerita Sandhur ini berakhir bahagia dengan berlangsungnya pernikahan ‘Petak’ dan ‘Cawik’.