Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKesenian Mung Dhe
Sejarah:      Sejarah kelahiran Kesenian Mung Dhe erat kaitannya dengan peperangan Diponegoro 1925-1930. Kegagalan perjuangan Diponegoro di Jawa Tengah pada waktu itu mengakibatkan pengikutnya tersebar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kesenian Mung Dhe ini semula diciptakan oleh sisa-sisa prajurit Diponegoro yang menetap di Desa Termas, Kecamatan Patianrowo. Kesenian ini diciptakan secara bersama-sama oleh 14 orang yang semuanya masih ada hubungan keluarga. Mereka adalah Kasan Tarwi, Dulsalam, Kasan War, Kasan Taswut, Mat Khasim, Suto, Samido, Rakhim, Mat Ngali, Mat Ikhsan, Mat Tasrib, Baderi, Mustari, dan Soedjak. Diciptakannya kesenian ini dimaksudkan guna mengumpulkan prajurit-prajurit Diponegoro yang tersebar di berbagai daerah. Melalui gerakan tarian yang khas, yaitu menggambarkan latihan baris berbaris dan adegan perang, tarian ini sarat dengan nilai perjuangan. Cara seperti itu mereka tempuh untuk mengelabui tentara Belanda yang selalu mengikuti dan mengintai dimanapun sisa-sisa prajurit Diponegoro berada. Ternyata penyamaran menggunakan bentuk kesenian ini berhasil. Tentara Belanda tidak mengetahui kalau para anggota kesenian Mung Dhe merupakan para prajurit yang sedang berlatih baris berbaris dan berperang. Pimpinan prajurit menyamar (menutupi wajahnya) dengan memakai topeng, dan melakukan gerakan-gerakan lucu sebagai penthul atau tembem. Kesenian ini kemudian sering mengamen dari satu tempat ke tempat lainnya, dan akhirnya menjadi suatu tontonan yang digemari dan berkembang pesat tidak hanya di Desa Termas, Kecamatan Patianrowo, melainkan meluas ke daerah sekitarnya.Perkembangan Kesenian Mung Dhe selanjutnya kurang menggembirakan dan untuk waktu yang lama tenggelam. Baru pada tahun 1982 kesenian ini digali dan dikembangkan lagi, yaitu oleh SDN. Garu II, Kecamatan Baron. Berawal dari sekolah tersebut Kesenian Mung Dhe kembali dikenal oleh masyarakat luas di Kabupaten Nganjuk. Deskripsi: Awalnya Kesenian Mung Dhe ini melibatkan 14 orang pemain dengan pembagian peran sebagai berikut: 2 orang prajurit, 2 orang pembawa bendera, 2 orang botoh, dan 8 orang pemain sekaligus pengiring. Alat musik pengiring yang digunakan: penitir (semacam kempul yang berbunyi Mung), bendhe (semacam kempul yang berbunyi Dhe), jur (semacam kempul yang agak pipih yang berbunyi Jur, Gur), derodog (semacam tambur), kempyang (kencer), timplung, kendang, dan suling. Dalam perkembangannya kini, jumlah pemainnya menjadi 12 orang saja, menyesuaikan dengan jumlah alat pengiring yang meliputi 6 macam, yaitu penitir, timplung, bendhe, jur, kempyang, dan derodog. Tata busana semua pemain pada dasarnya sama, yaitu berbusana prajurit. Letak perbedaan terdapat pada masing-masing peran. Warna busana banyak didominasi oleh perpaduan warna hitam, merah, dan putih. Adapun tata rias para pemain Kesenian Mung Dhe menggambarkan prajurit bangsawan yang gagah, melalui penambahan atau penebalan bagian tertentu pada wajah, seperti alis, kumis, godhek (jambang), dan jawas. Untuk peran botoh yaitu penthul memakai warna putih, dan peran tembem memakai topeng warna hitam. Berhubung kesenian ini melambangkan peperangan, maka bagi yang berperan kalah memakai kace hitam, sampur hijau, dan topeng hitam. Sedangkan yang menang memakai maca merah, sampur putih, dan topeng putih. Kesenian Mung Dhe yang sarat dengan tari keprajuritan memiliki 8 ragam gerak, meliputi: 1. Kirapan : jalan berbaris diiringi musik Mung Dhe. 2. Jalan berpedang : jalan dengan pedang diputar-putar di depan dada, tangan kiri di pinggang (makang kerik). 3. Maju-mundur : gerakan seperti jalan berpedang dengan gerakan maju mundur. 4. Gontokan : adu kekuatan di tempat saling merapatkan bahun kanan kiri dengan pedang. 5. Perangan lombo rangkep : pedang ditepiskan pada tanah, saling serang lamba rangkep (lambat-cepat). 6. Perangan rangkep : saling berhadapan adu kekuatan pedang, saling serang maju mundur. 7. Perang berhadap : berhadapan adu pedang atas-bawah secara cepat, kemudian pedang ditepiskan pada tanah dan diadu. 8. Srampangan : penari saling menyerang (melempar pedang) pada kaki lawan secara bergantian dan saling menangkis. Tangkisan yang pertama di atas kepala dan yang kedua di depan dada.