Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaGembyangan Waranggana Tayub
Sejarah:      Kabupaten Nganjuk terkenal sebagai gudangnya waranggana, namun dalam hal popularitas masih kalah bila dibandingkan dengan daerah lainnya. Tertinggalnya Kabupaten Nganjuk dalam hal seni tradisional bekso/tayub ini dimungkinkan karena belum terorganisir dan terkoordinirnya para tokoh kesenian dan para pelakunya, yaitu para penari, pramugari (pimpinan pementasan tayub), para pengrawit (niyogo), dan para pembinanya. Guna mengatasinya maka pada bulan Desember 1985 didirikan organisasi para pramugari, waranggana dan pengrawit dengan nama HIPRAWARPALA (Himpunan Pramugari, Waranggana dan Pengrawit langen bekso). Di dalam naungan organisasi ini kemudian mereka secara berkala mendapatkan pembinaan mental, pembinaan teknis berupa gerak ragam tari, suara, dan ragam gending. Setelah waranggana dinyatakan lulus dalam uji mental dan teknis, kemudian diberi Nomor Induk dan diperbolehkan pentas. Sedangkan bagi yang belum lulus tidak mempunyai Nomor Induk dan berarti belum diperbolehkan pentas. Jauh sebelum mendapatkan serangkaian pembinaan yang meliputi mental dan teknis, seorang waranggana langen bekso tayub telah menjalani latihan khusus tentang keterampilan olahbeksa dan olahswara. Calon waranggana sedikitnya harus menguasai dengan baik 10 jenis tarian dan tembang. Baru setelah itu diadakan Upacara Gembyangan (wisuda) atau peresmian, sebagai tanda kelulusan dan berhak mendapatkan Kartu Induk atau Surat Izin Pentas (SIP). Deskripsi:      Dalam rangka mengangkat derajat para waranggana tayub dan seni tayub langen bekso, serta untuk menciptakan tujuan wisata budaya di Kabupaten Nganjuk, sejak tahun 1987 diadakan acara Gembyangan Waranggana Tayub yang ditangani langsung oleh Pemerintah Nganjuk. Acara gembyangan ini sudah mentradisi. Meskipun sering diadakan pembaruan (modifikasi) namun tanpa menghilangkan inti upacaranya. Berdasarkan kelaziman yang sudah turun temurun, acara gembyangan waranggana selalu diadakan pada Hari Jumat Pahing di Bulan Besar. Upacara diselenggarakan di Desa Sambirejo dan berlokasi di Punden Mbah Ageng. Rangkaian upacara bersifat sakral, menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil, dan mengenakan Pakaian Jawa (Kejawen). Dalam upacara ini melibatkan tidak kurang dari 16 unsur peserta upacara, yang terdiri dari pemimpin upacara, para sesepuh, calon waranggana, juru kunci 2 punden, pembawa dupa, pembawa sampur cucuk lampah, prajurit Mung Dhe, putri domas, para orangtua calon waranggana, pramugari tayub, juru wicara, MC, pengurus HIPRAWARPALA, pengrawit dan waranggana di Punden Mbah Ageng dan Sedudo, kembang setaman, sampur sejumlah peserta gembyangan, dupa, seperangkat gamelan pelok slendro (2 unit), seperangkat gamelan Mung Dhe, dokar (sejumlah peserta gembyangan) untuk kendaraan calon waranggana dari Ngrajek ke Sambirejo, serta perlengkapan lain-lain yang cukup rumit. Waktu yang diperlukan sejak persiapan hingga selesai upacara kurang lebih 5,5 jam. Sehari sebelum pelaksanaan Upacara Gembyangan Waranggana Tayub, yaitu pada Hari Kamis Legi sekitar pukul 13.30 WIB diadakan upacara pengambilan air dari Air Terjun Sedudo oleh panitia tingkat desa, tingkat kecamatan dan kabupaten, perangkat desa, sesepuh desa, dan juru kunci Mbah Ageng. Air suci dari Air Terjun Sedudo dimasukkan ke dalam gentong disatukan dengan air dari Sumur Mbah Ageng. Sore harinya sekitar pukul 17.00 diadakan selamatan tumpengan di Punden Mbah Ageng di Dusun Ngrajek yang dihadiri oleh warga Dusun Ngrajek, waranggana setempat, perangkat desa, panitia gembyangan, pejabat tingkat kecamatan dan kabupaten.