Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaGamelan
Sejarah:      Adalah Pak Pardjono (78 tahun), seorang pengrajin gamelan, yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk membuat gamelan. Lulus Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1945, Pak Pardjono belajar wayang orang bersama teman-temannya. Setelah ikut bermain wayang orang, muncullah keinginan dari dalam dirinya untuk belajar membuat gamelan. Setelah belajar membuat gamelan berhasil, selanjutnya Pak Pardjono belajar nglaras, dan nabuh. Pada mulanya Pak Pardjono tidak berencana menjadikan keahliannya membuat gamelan tersebut sebagai mata pencaharian. Dia mantap menggeluti usaha sebagai pengrajin gamelan setelah mencoba hampir seluruh jenis kesenian yang ada, seperti menjadi dalang, penyanyi, dan pelawak. Berawal pada tahun 1953 Pak Pardjono mulai membuat gamelan. Kala itu ia membuat gamelan janggrung (gamelan genthong). Sempat berhenti membuat gamelan dan mencoba bekerja di Surabaya, namun hanya sebentar karena tidak betah. Kemudian ia pulang, dan sejak saat itu, tahun 1955, Pak Pardjono menekuni usaha gamelan hingga saat ini. Deskripsi:      Pak Pardjono merupakan orang pertama yang membuat gamelan di Kecamatan Loceret. Pada awalnya, usahanya tersebut belum memiliki nama atau papan usaha. Baru sekitar tahun 1984 ketika muncul kebutuhan untuk pengajuan kredit usaha, dibuatlah papan usaha dengan nama “Madu Laras”. Nama “Madu Laras” dipilih dengan harapan menghasilkan suara yang harmonis dan dapat dinikmati semua orang. Saat ini alat musik gamelan yang dibuatnya terdiri dari Kempul, Banon, Kenong, Demung, Saron, Peking, Gombang, Kendang, Gong, dan pelengkap gamelan lainnya. Hingga kini pesanan yang datang hanya berdasarkan informasi dari mulut ke mulut, dari orang-orang yang pernah memesan gamelan di tempatnya. Meski demikian ia setiap hari tidak pernah berhenti membuat, bahkan untuk bisa dibuatkan gamelan biasanya harus mengantri dahulu, maklum pemesannya banyak. Produknya telah dipasarkan di seluruh Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Sumatera. Satu set gamelan dalam pengerjaannya memerlukan waktu 1 sampai 2 bulan. Satu set gamelan yang dibuat dari bahan besi harganya berkisar Rp. 25.000.000,00 baik untuk jenis pelog ataupun slendro. Sedangkan yang terbuat dari kuningan berkisar Rp. 65.000.000,00. Adapula gamelan “padang mbulan”, yaitu bahannya separuh dari kuningan dan separuh dari besi, harganya berkisar Rp. 45.000.000,00. Selain menerima pesanan per set, Pak Pardjono juga menerima pesanan gamelan campursari, gamelan jaranan (tidak lengkap, hanya terdiri dari 1 buah kempul, 2 buah saron, 2 buah demung, 3 buah kenong, dan gong), ataupun gamelan satuan, misalnya hanya gong, kendang, dan sebagainya. Diakui oleh Pak Pardjono, bahwa setelah Presiden Soeharto lengser, pesanan hanya datang dari kalangan pribadi dan kelompok, sedangkan dari instansi pemerintah hanya sedikit, tidak lagi seperti dahulu dimana hampir setiap instansi memesan gamelan padanya. Meski demikian Pak Pardjono tetap bertekad akan menekuni usahanya sebagai pengrajin gamelan sampai akhir hayatnya. Beliau juga merasa lega hati karena dari 4 anaknya, ada 2 orang yang saat ini telah ikut mengurusi usahanya tersebut. Kepada kedua anaknya tersebut Pak Pardjono mewariskan usahanya seraya berharap semoga gamelan tidak akan punah.