Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Cerita Rakyat Air Terjun Pacoban |
Sejarah:
Di kawasan hutan Bajulan bagian selatan, didapati beberapa air terjun. Lebih ke selatan lagi dengan melewati jalan setapak menuju ke atas, akan ditemui air terjun dengan ketinggian yang berbeda-beda. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Nganjuk, nama-nama air terjun yang ada di kawasan Bajulan ini erat kaitannya dengan cerita Kerajaan Daha (Kediri) saat diperintah Sri Aji Jayabaya.
Deskripsi:
Konon ceritanya bahwa saat terjadi peperangan antara Kerajaan Kediri dengan Kerajaan Seberang, Kerajaan Kediri mengalami kekalahan. Setelah perang usai, Raja Kerajaan Seberang ingin mempersunting Dewi Kilisuci. Namun keinginan tersebut ditolak, dan Dewi Kilisuci melarikan diri bersembunyi di tengah hutan di lereng Gunung Wilis. Kepergian Dewi Kilisuci tersebut ditemani oleh adiknya yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun. Sesampainya di tengah hutan di lereng Gunung Wilis, Dewi Sekartaji menderita sakit. Sayangnya rombongan tersebut tidak membawa obat-obatan. Kemudian Dewi Kilisuci bermaksud mencari dedaunan untuk ramuan obat, namun malang menghampirinya, ketika akan kembali ia terperosok dan tidak dapat menemukan kembali dimana adiknya berbaring. Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya Dewi Kilisuci sampai di sebuah air terjun (grojokan) yang banyak bebatuannya, dan menemukan bebatuan yang berbentuk meja. Karena kelelahan, tertidurlah Dewi Kilisuci. Dalam tidurnya tersebut Dewi Kilisuci merasa diganggu oleh makhluk halus (jin). Ia mendapat cobaan demi cobaan yang datang silih berganti. Mengingat banyaknya cobaan (pacoban) dari makhluk halus itulah maka air terjun tersebut diberi nama Air Terjun Pacoban. Merasa gagal melakukan semedi di tempat pertama, Dewi Kilisuci dengan pakaiannya yang telah compang-camping berjalan tertatih-tatih menuju ke tempat air terjun (grojokan) yang lebih atas. Namun ternyata keadaan di atas tidak berbeda dengan di bawah, bahkan gangguan dan godaan lebih banyak lagi. Karena godaannya semakin banyak dan semedinya terganggu, lokasi air terjun tersebut diberinya nama Pacoban Ngunut. Walaupun terus mendapatkan godaan, namun Dewi Kilisuci meneruskan semedinya hingga akhir hayatnya di tempat tersebut.