Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaAjaran Saminisme
Sejarah: Sastra lisan masyarakat Samin diajarkan dengan cara sesorah (secara lisan) karena mereka tidak mengenal adanya peninggalan teks atau tertulis. Masyarakat Samin yang berada di Desa Sumber mengatakan bahwa tulis iku ana loro sak jerone papan lan sak jabane papan (ilmu itu ada dua yang berada di dalam hati dan yang ada di luar hati manusia). Orang Samin tidak mau dikatakan bahwa ajarannya itu berasal dari Hindu maupun Budha, tetapi mereka mengakui ada sedikit kesamaan dengan ajaran dalam Islam. Mereka mengaku bahwa agamanya adalah agama Jawa atau agama Adam, menurut pengakuan mereka semua agama itu ada pada diri orang Samin karena orang Jawa sebagian besar memeluk agama Islam maka secara otomatis keberIslamannya akan berbau Jawa pula. Adapun ajaran dan budaya Saminisme itu pada awalnya muncul dari ketokohan dan pemikiran pemimpin masyarakat setempat yang disebut Samin Surosentiko, dilahirkan pada tahun 1859 di Desa Ploso, Kediren sebelah utara Randublatung Kabupaten Blora. Ajaran Saminisme adalah ajaran-ajaran yang sangat positif, terutama yang berkenaan dengan kejujuran, kesetiaan, kesederhanaan serta semangat kerja. kejujuran orang Samin merupakan wujud ajaran samin Surosentiko tentang nilai-nilai kehidupan yang mereka terima dan sampai sekarang tetap di pegang teguh oleh generasi pengikutnya. Deskripsi: Falsafah hidup orang Samin yang tetap dipegang teguh, antara lain kata-kata yang berbunyi : aja dahwen, panesten, aja nglarani sasepadhane, kudu trokal, gemi lan bisa jujur lan aja ngutil jupuk, mbedhog sasepadhane (jangan suka mengejek, jangan sirik, jangan mengikuti siapa saja, harus giat bekerja, bisa mengendalikan ekonomi dan jujur serta jangan mencuri). Mereka percaya bahwa dengan melakukan ajaran Samin Surosentiko akan terlepas dari hukuman karma, bahwa baang siapa yang melanggar akan mendapat hukuman sesuai dengan perbuatannya. Istilah mereka dikatakan sapa nadur pari thukul pari ngundhuh pari, nandur rawe thukul rawe ngundhuh rawe, ora bakal nandur pari thukul jagung ngundhuh rawe (siapa menanam padi tumbuh padi, menuai padi, menanam rawe memetik rawe, tidak akan menanam padi tumbuh jagung memetik rawe). Nglakoni sabar trokal, sabare dieling-eling, trokale dilakoni (melaksanakan kesabaran dan tawakal, sabarnya selalu diingat, tawakalnya dijalankan).