Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaSadranan di Jetis Selopampang
Sadranan yang dilakukan oleh warga Desa Jetis, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung dilakukan setiap setahun sekali tepatnya hari Jum’at Pahing bulan Ruwah. Kapan dimulainya kegiatan sadranan ini tidak ada yang dapat memastikan. Menurut keterangan tradisi ini telah ada sejak dahulu dan diwariskan secara turun-temurun. Tujuan sadranan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rejeki yang dianugrahkan kepada masyarakat Jetis. Pada kesempatan ini masyarakat Jetis. Pada kesempatan sadranan ketika berada di makam masyarakat Jetis juga sambil mengenang Nyi Nauda. Tokoh ini semasa hidupnya telah berjasa merintis berdirinya Desa Jetis. Hal yang tidak kalah penting saat menyelenggarakan sadranan dapat digunakan sebagai wahana tali silaturahmi di antara sesama warga. Pada hari pelaksanaan sadranan yaitu Jum’at Pahing bulan Ruwah para warga menuju makam desa. Masing-masing kepala keluarga membawa tenong yang berisi nasi bucu, ingkung dan aneka jajanan, serta lauk. Pada saat sadranan di Jetis ada sekitar 500 tenong yang ada di makam dusun. Para peserta sadranan duduk berjajar di kompleks makam menunggu saat mulai ritual. Ritual sadranan dipimpin oleh seorang ulama dengan melakukan doa bersama. Doa bersama ini untuk tujuan mohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar masyarakat Jetis dikarunia keselamatan dan limpahan rejeki. Selesai melakukan doa, para warga mulai menikmati isi tenongnya masing-masing. Sementara para warga menikmati isi tenongnya, ada beberapa petugas yang mendatangi setiap pemilik tenong untuk minta sebagian dari isi tenong yang terdiri dari nasi bucu, lauk pauk, dan jajanan. Hasil makanan yang telah terkumpul ini llu dimasukkan ke dalam plastik. Sejumlah plastik yang telah diisi makanan ini diberikan kepada peserta dan tamu undangan sebagai nasi berkat untuk di bawa pulang. Selesai pembagian nasi berkat ini berarti acara ritual sadranan telah selesai. Mereka lalu bubaran meniggalkan makanan.