Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaCerita Rakyat Asal Mula Tradisi Sadran di Pagerotan
Pada masa perang Diponegoro, perjuangannya sampai di wilayah Wonosobo. Ada empat orang pimpinan yang ikut bergabung gerakan Pangeran Diponegoro yaitu Pangeran Puger, Pangeran Rakukuhan, Gondang Kejawen dan Dermo Kusumo. Setelah keempat tokoh ini meninggal lalu dimakamkan di Desa Pagerotan, makam ini lalu dinamakan "Si Keramat". Pangeran Puger meninggal pada bulan Suro. Warga Pagerotan secara turun-temurun pada hari Jumat Kliwon bulan Suro melakukan sadranan atau slametan tenongan sebagai ungkapan mengenang meninggalnya Pangeran Puger. Selain itu tradisi slametan tenongan juga digunakan sebagai sarana ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah banyak memberi karunia kepada masyarakat serta mohon agar masyarakat Pagerotan dijauhkan dari mara bahaya. Tradisi sadranan yang dilakukan hari Jumat Kliwon pada pagi hari. Pada hari tersebut para warga berjalan menuju makam "Si Keramat". Masing-masing kepala keluarga membawa perlengkapan makanan yang diletakkan dalam tenong. Cara membawa tenong ditaruh di atas kepala (disunggi). Pada umumnya terdiri dari nasi putih yang dibentuk bulat berjumlah 4 (empat) buah. Jumlah ini menggambarkan bahwa yang dimakamkan di makam "Si Keramat" ada 4 orang tokoh. Selain nasi putih isi tenong tersebut masih dilengkapi dengan lauk yang terdiri dari bakmi, srundeng, sayur tahu diberi lombok dan krupuk. Menurut cerita, perlengkapan makan ini merupakan kegemaran Pangeran Puger. Setelah para kepala keluarga sampai di makam "Si Keramat", tenong-tenong tersebut lalu ditata berderat memanjang, para pemilik tenong duduk di dekat tenongnya masing-masing. Upacara diawali dengan pembacaan doa yang dilakukan oleh seorang Kaum. Setelah kaum mengakhiri doanya, para pemilik tenong lalu menikmati isi tenongnya masing-masing. Apabila ada tamu dari luar Pagerotan, tamu tersebut ditawari agar ikut menikmati isi tenongnya. Menurut keyakinan para penari embleg bila mereka ikut menikmati isi tenong hal ini akan membangkitkan kekuatan dan rasa percaya diri pada saat tampil menari. Setelah para hadirin selesai menikmati isi tenongnya, mereka lalu menyaksikan tarian embleg.