Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Sintren |
Sintren merupakan kesenian rakyat yang cukup populer di wilayah Karesidenan Pekalongan terutama di kalangan masyarakat pantura. Sintren konon berasal dari legenda Sularsih-Sulandono. Sulandono adalah putra Ari pasangan suami istri Joko Bahu dan Ratnasari yang menurut kisah adalah pendiri Kota Batang, Pekalongan dan wilayah sekitarnya. Pada zaman dulu selain sebagai sarana hiburan dan ajang komunikasi muda-mudi untuk cari jodoh, sintren juga digunakan sebagai meditasi untuk meminta turun hujan. Sekarang, sintren pun dipentaskan untuk memeriahkan hari-hari besar nasional, acara hajatan atau pun untuk menyambut tamu resmi.
Sintren menggambarkan perjalanan hidup dan kesucian seorang gadis yang diperankan seorang gadis-gadis belia yang masih suci, belum akil balik dan tidak pernah terjamah tangan lelaki. Pertunjukan sintern diawali tembang yang menarik perhatian para penonton yakni "Kukus Gunung". Berikutnya gadis calon sintren yang mengenakan pakaian biasa dimasukkan ke dalam kurungan dalam keadaan tangan terikat. setelah si gadis berada dalam kurungan, kemenyan pun dibakar sementara para pelantun lagu mengalunkan tembang "Yu Sintren" yang bertujuan memanggil dari luar. Kekuatan inilah yang nantinya mengganti busana calon sintren. Selanjutnya akan tampak sesosok bidadari yang mengenakan pakaian kebesaran lengkap dengan kacamata hitam, berdiri anggun lalu berlenggak-lenggok mengikuti irama gamelan yang dimainkan para penabuh.