Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaAsal Usul Nama Magetan
Sejarah : Cerita Rakyat Asal-Usul Nama Magetan Pada abad ke 16 daerah Gondong Kidul, tepatnya di sekitar alun-alun, hiduplah seorang yang memiliki wibawa agung bernama Ki Ageng Mageti. Pada suatu hari Ki Ageng Mageti memerintahkan penduduk untuk membabat hutan sebagai perluasan wilayah pemukiman mereka. Beliau mempercayakan pekerjaan tersebut dipimpin oleh Ki Buyut Suro/Ki Ageng Getas. Mereka bekerja keras tak mengenal lelah, didorong semangat yang tinggi dan hati yang bergembira, mereka bergotong royong bersama membabat hutan. Kala itu suasana Keraton Mataram sedang kacau. Pada saat itu Basah Gondokusumo (kerabat Mataram) diasingkan di tempat Basah Suryodiningrat karena dituduh menentang Sultan Amangkutat I. Dalam pengungsian Gondokusumo mendapat nasehat Basah Suryodiningrat yang kemudian ke daerah Timur Gunung Lawu. Memilih tempat ini karena Gunung Lawu sedang diadakan babat hutan yang diadakan oleh Ki Buyut Suro/Ki Ageng Getas atas perintah Ki Ageng Mageti. Akhirnya Basah Suryodiningrat mendapat sebidang tanah di sebelah utara Sungai Gondong (sekarang Kelurahan Tambran) setelah perdebatan sengit (Ki Ageng Mageti dan Basah Suryodiningrat). Ki Ageng Mageti tahu kalau Basah Suryodiningrat adalah sesepuh Mataram, akhirnya Ki Ageng Mageti mempersembahkan seluas tanah miliknya sebagai bukti kesetiaan pada Mataram. Akhirnya menjadi penguasa di tempat itu dengan gelar Josonegoro/dikenal Bupati Josonegoro. Kemudian tempat yang baru diberi nama Magetan, dengan pertimbangan persembahan Ki Ageng Mageti. Kata mageti berubah ejaan yakni Magetain yang akhirnya Magetan,. Pemerintah Kabupaten Magetan menetapkan hari jadi Kabupaten Magetan pada tanggal 12 Oktober sesuai dengan Bupati Josonegoro partama tahun 1675. Kesimpulan Memberikan pelajaran pada kita tentang perlunya kerja keras, gotong-royong, sifat peduli terhadap sesama dan loyalitas yang tinggi dari bawahan terhadap pemerintah. Hal ini yang dilakukan oleh Ki Ageng Mageti terhadap Basah Suryodiningrat dan cucunya Basah Gondokusumo.