Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaSandhur Pantel
Sejarah: - Deskripsi: Sandhur Pantel adalah sebuah kesenian yang berbau magis. Kesenian ini berasal dari Desa Ambunten Barat, kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep. Ketika masyarakat menghadapi (musibah dan cobaan), tarian ini menjadi penting karena merupakan jembatan (sarana) dalam rangka berhubungan dengan Tuhan penguasa alam semesta. Dalam hal ini digunakan sebagai media untuk menolak dan mengusir serta menjauhkan bencana yang direfleksikan dalam bentuk puji-pujian, rangkuman doa yang disertai dengan nyanyian, dan ragam gerak tarian yang diiringi oleh musik. Ada beberapa tujuan penggelaran Sandhur Pantel, yakni: mendatangkan hujan, rokat anak agar yang bersangkutan selamat (bebas dalam berbagai gangguan), rokat pangkalan agar para nelayan dapat menghasilkan tangkapan ikan yang melimpah, dan penyebuhan suatu penyakit. Kesenian ini berasal dari tamsil kisah nabi zakaria. Konon, pada suatu masa di Desa Ambunten Barat hiduplah seorang anak yang bernama "Sandhur". Walaupun penggembala kambing, namun dia adalah anak yang sholeh (taat beragama Islam) dan menjadi buah bibir masyarakat setempat. hal ini membuat iri hati seseorang yang tidak mempercayai adanya Tuhan (kafir). Untuk itu sikafir berniat mencelakakannya. Sahdan, ketika Sandhur sedang menggembalakan kambingnya di gunung dia berencana untuk membunuhnya. Akan tetapi, niat itu tidak terlaksana karena sandhur tiba-tiba hilang bagaikan ditelan bumi. Namun demikian si kafir tidak putus asa melalui meditasi, ia mendengar suara gaib yang memberi tahu persembunyian sandhur, yaitu di dalam sebuah pohon besar. Dan, tanpa pikir panjang lagi sang kafir memotong pohon tersebut dengan gergaji. Kisah tentang hilangnya Sandhur inilah yang kemudian menjadi ruh kesenian ini. Kesenian ini dimainkan oleh pria dan wanita. Mereka terdiri atas 13 penabuh, 5 penembang, seorang penebas, 14 penari. Pementasan pertama berdurasi sekitar 3-4 jam. Setelah itu dilanjutkan dengan pelantunan bait-bait pujian dan doa. Pada bagian ke dua penari melakukan gerak ragam yang sama. Dalam setiap pementasan selalu ada sesajinya yang berupa: kelapa gading, jajan pasar, rengginang, nasi dan panggang ayam, dan roncean jagung. Selain itu, berbagai pakaian anak-anak, remaja dan dewasa yang warnanya berbeda-beda (merah, kuning, hitam dan hijau). Konon, berbagai pakaian tersebut diperuntukkan bagi makhluk lain (halus) agar tidak mengganggu kehidupan manusia.