Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaPOJIAN - Tlanakan, Kab. Pamekasan, Jawa Timur
Pojian merupakan upacara adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Madura terutama yang tinggal di Kabupaten Pamekasan karena sedang dilanda kesusahan atau penderitaan akibat tertimpa musibah, misalnya wabah penyakit, kekeringan yang berkepanjangan dan gagal panen yang disebabkan oleh serangan hama. Upacara ini dilaksnakan atas petunjuk berupa wangsit (pemberitahuan secara gaib) yang diterima oleh seorang pinisepuh. Masyarakat dengan dipimpin oleh tokoh setempat mengadakan upacara dalam bentuk pojian, yakni memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terlepas dari musibah atau penderitaan yang menimpanya. Dalam upacara pojian peserta upacara memerankan beraneka binatang yang sedang dilanda kesedihan, misalnya pada saat kekurangan air, mereka menirukan gerak-gerik serta suara binatang tersebut. Suara-suara binatang tersebut diartikan sebagai suara puji-pujian dan doa yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mendapat ampunan dan terlepas dari musibah yang menimpanya. Seorang pinisepuh bersama beberapa pembantunya meletakkan sesaji berupa jajan pasar di tempat upacara. Sesaji ini diletakkan pada sebuah ancak dan dimaksudkan sebagai persembahan kepada roh-roh halus yang berada di sekitar tempat upacara agar tidak mengganggu jalannya upacara. Pinisepuh juga melakukan ngobbar dupa (membakar kemenyan) yang dimaksudkan untuk mengusir roh jahat. Pelaku upacara juga bermain gendhungan yaitu menabuh alat musik tradisional yang disebut ndhung-ndhung sebagai isyarat memanggil semua peserta upacara. Semua peserta upcara datang ke tempat upacara dengan membawa perlengkapan yang diperlukan. Peserta laki-laki membawa obor yang terbuat dari buah kelapa sebanyak empat buah, sedangkan peserta perempuan yang terdiri para gadis belia membawa aneka makanan dan perlengkapan lainnya. Pada saat pelaksanaan upacara pinisepuh membuka acara dan memberi penjelasan tentang maksud dan tujuan diadakannya upacara pojian. Kemudian dilakukan pembacaan Al-Fatihah yang dipimpin oleh piniswepuh dan ditujukan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW dan kepada yang menguasai bumi. Para peserta laki-laki mengikuti pinispuh berperan dan menirukan berbagai bunyi binatang sebagai ungkapan permohonan atau doa agar mendapatkan pertolongan berupa turunnya hujan atau berlalunya suatu musibah. Peserta perempuan meletakkan makanan di tengah-tengah tempat upacara. Beras kuning ditabur ke seluruh tempat upacara sebagai syarat agar kegiatan kegiatan tersebut tidak diganggu oleh roh jahat. Pada puncak acara pojian semua peserta berdiri seraya memanjatkan doa sampai terjadi keajaiban yaitu jatuhnya seorang peserta. Peserta yang jatuh tersebut dipercaya telah kemasukan roh halus dan mengalami kejang-kejang. Hal ini dipercaya sebagai isyarat bahwa pojian akan membawa hasil. Upacara tradisional ini membawa beberapa pesan yang terkait dengan keharmonisan antara Tuhan, alam, dan manusia. Hanya Tuhan Yang Maha Esa yang mampu menyelamatkan alam dan manusia sehingga manusia harus senantiasa mendekatkan diri dan takwa kepadaNya. Jika terjadi wabah atau bencana, yang menderita bukan hanya manusia melainkan juga makhluk yang lain seperti hewan atau tumbuhan. Manusia juga harus mampu menakhlukan kekuatan gaib yang merusak seperti roh halus dan semacamnya.