Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaRasulan Gubug Gedhe
Upacara ini merupakan bentuk penyebaran Agama Islam terbukti dengan adanya peninggalan atau petilasan yang berada di lereng Gunung Genthong, yaitu adanya padasan di atas gunung, bekas pendhapa di lapangan Gubug Gedhe tempat dilakukan upacara tradisional. Tujuan upacara adalah melestarikan budya daerah yang dilaksanakan sebagai ungkapan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga segala aktivitas masyarakat dapat lancar sesuai dengan tutur kata Eyang kopek dan eyang Kalang boyo (tokoh yang dimitoskan). Sebelum upacara adat Gubug Gedhe lebih dahulu masyarakat desa Ngalang mengadakan sadaranan di lereng gunung Genthong di Dusun manggung. Sesaji yang harus dibawa yaitu nasi uduk, ingkung ayam, ayam panggang, jajan pasar, hasil palawija. Semua sesaji disiapkan lalu diadkan kenduri sebagai sodakoh selamatan warga Desa Ngalang untuk memperingati petilasan sang Prabu Brawijaya. Untuk sadranan biasanya hari Selasa Kliwon. Setelah itu pada antara hari Minggu Pahing dan Senin Pahing yang dianggap hari baik (tidak kena was-was dan ringkel). Seminggu sebelum hari H diadakan pasar malam (cembengan) seperti dalam sekaten. Setelah pasar malam berlangsung 1 minggu maka upacara dilaksanakan dengan diikuti 14 dusun. Diawali dengan tirakatan malam hari yang disebut midodareni, pagi harinya jam 07.30 wib semua dusun tadi mengumpulkan gunungan di balai desa, lalu berangkat ke Gubug Gedhe dengan urutan gunungan desa paling depan diikuti gunungan masing-masing dusun. Sampai di Gubug Gedhe dikumpulkan lalu diadakan pangikraran dipimpin pemuka agama (kaum). Lalu kenduri dan sambutan diakhiri pementasan tayub.