Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaSekepel
Konon ceritanya hiduplah seorang janda di tepi hutan dengan ditemani seorang anak semata wayang bernama Sekepel. Dinamai Sekepel karena anak tersebut besarnya hanya segenggaman tangan orang dewasa, hingga sepintas seperti boneka mainan. Para tetangganya sangat sayang pada Sekepel karena ia rajin, suka membantu, dan baik hatinya. Setiap ada tetangganya yang punya hajat, dengan senang hati dibantunya. Mengetahui hal tersebut si Mbok Sekepel sangat bersyukur dianugerahi Tuhan kepercayaaan untuk mengasuh Sekepel. Rutinitas yang dilakukan si Mbok Sekepel setiap harinya adalah berjualan daun ke pasar. Dari keuntungan penjualan daun tersebut dikumpulkannya sekeping demi sekeping uang untuk ditabung sebagai persiapan masa depan Sekepel. Kehidupan desa tempat Sekepel tinggal berlangsung penuh ketenteraman, baik yang muda maupun tua, mereka saling tolong menolong dan menghargai. Hingga pada suatu hari seisi desa digemparkan hilangnya hewan ternak. Tidak hanya itu saja, dua orang warga desa hilang tidak diketahui rimbanya. Selidik punya selidik ternyata mereka telah dimangsa sepasang raksasa penghuni gua dalam rimba. Si Mbok Sekepel sedih karena setiap hari harus pergi ke pasar berjualan daun pisang, yang berarti setiap hari pula harus meninggalkan Sekepel sendirian. Mau berhenti berjualan nanti siapa yang mencari nafkah, namun bila pergi berjualan sebetulnya tak tega meninggalkan Sekepel sendirian di rumah. Lengkaplah kesedihan dan kebimbangan yang dirasakan Mbok Sekepel. Dengan penuh kegalauan diajaknya Sekepel bertukar pikiran. Dalam pembicaraan tersebut Sekepel menenangkan ibunya dengan mengatakan bahwa ia bisa menjaga diri dan akan menghadapi Yai dan Nyai Buto Ijo dengan siasat yang cerdik. Perasaan si Mbok Sekepel sedikit tenang setelah mendengar penjelasan putrinya tersebut. Karena peristiwa dimakannya ternak dan warga desa oleh sepasang raksasa yang dijuluki Yai dan Nyai Buto Ijo, lambat laun desa-desa sekitar hutan layaknya kampung mati, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sekepel yang masih suka bermain tidak tahan dengan kondisi tersebut. Apalagi bila harus berlama-lama bersembunyi dalam rumah, udara pengap tanpa sinar matahari makin menyesakkan nafasnya. Akhirnya Sekepel memutuskan keluar rumah sendirian, meski ia tahu ibunya sangat melarangnya. Saat sedang asyik bermain di luar rumah, tiba-tiba terdengar suara gemuruh di ujung desa. Orang-orang berlarian mencari selamat dari kejaran Buto Ijo. Sekepel tidak sempat bersembunyi ketika sesosok tubuh tinggi besar hijau gelap dengan mata merah menyala serta air liur berbau anyir menghampirinya. Kemudian saat hendak dilahap oleh Buto Ijo, Sekepel mengatakan tidak takut asalkan Buto Ijo dapat memenuhi permintaannya. Ternyata Sekepel mengajak Buto Ijo bermain delikan (petak umpet). Bila Buto Ijo bisa menemukannya maka Sekepel siap dilahap oleh Buto Ijo. Demikian kesepakatan diantara mereka. Yai Buto Ijo mencari Sekepel kesana kemari namun tidak berhasil menemukannya. Setelah lama mencari, raksasa itu mulai putus asa dan akhirnya menyerah. Sekepel girang tak terkira manakala Buto Ijo menyerah. Sekepel mengejek Buto Ijo dengan mengatakan bahwa Buto Ijo matanya dua tapi tidak tahu dimana ia bersembunyi. Buto Ijo penasaran dan bertanya dimana tadi Sekepel bersembunyi. Ternyata Sekepel bersembunyi di pengapit (bagian dari tempat tidur). Begitulah akhirnya hari itu Sekepel selamat dari terkaman raksasa. Dengan penuh kegembiraan Sekepel menceritakan kisahnya hari itu kepada ibunya. Si Mbok mendengarkan dengan seksama sambil menasehati agar Sekepel bisa menjaga diri dan lebih berhati-hati karena raksasa itu tidak bodoh. Keesokan harinya raksasa tersebut datang lagi ke rumah Sekepel. Ia sungguh-sungguh ingin mengalahkan Sekepel. Raksasa tersebut mengajak Sekepel bermain delikan (petak umpet) lagi. Kembali Sekepel dan Yai Buto Ijo terlibat permainan yang sangat seru karena Yai Buto Ijo sudah mengingat tempat persembunyian Sekepel kemarin. Raksasa tersebut langsung menuju ke pengapit, namun ternyata Sekepel tidak ditemukan disana. Hampir seharian Yai Buto Ijo mencari Sekepel namun tak ditemukannya. Hari menjelang sore akhirnya raksasa tersebut menyerah. Ketika ditanya tempat persembunyiannya kali ini, Sekepel menjelaskan bahwa ia bersembunyi di bawah kekep (penutup nasi dari tembikar). Begitulah permainan petak umpet dilakukan Yai Buto Ijo dan Sekepel berpekan-pekan. Setelah berpekan-pekan bermain delikan, akhirnya Sekepel ditemukan Yai Buto Ijo di balik genuk (tempat air). Betapa sukacitanya hati sang raksasa. Sebaliknya Sekepel sangat bersedih karena membayangkan perpisahan dengan ibu yang sangat disayanginya. Dengan dalih menunggu ibunya pulang, Sekepel mengulur waktu sambil menyiapkan sebilah pisau yang cukup tajam digenggamannya. Ketika hari menjelang senja tetapi si Mbok belum pulang, raksasa itu mulai gusar. Akhirnya tanpa menunggu lagi raksasa menelan tubuh Sekepel bulat-bulat kemudian meminum air sekolam penuh. Dalam perut raksasa Sekepel sangat senang, karena ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Namun demikian Sekepel tetap melaksanakan niatnya untuk membunuh raksasa yang telah mengganggu ketenangan dan memangsa banyak korban. Sekepel mencabik-cabik perut raksasa menggunakan pisau yang digenggamnya hingga raksasa tersebut tewas. Kemudian dengan hati-hati Sekepel mencari jalan keluar dari dalam tubuh raksasa tersebut, dan mengabarkan peristiwa tewasnya raksasa keseluruh desa. Penduduk berbondong-bondong menyaksikan tubuh raksasa yang telah roboh tak bernyawa. Kemudian mereka berunding membicarakan mayat raksasa tersebut. Akhirnya mayat raksasa tersebut diipotong-potong, dimasak dengan segala macam bumbu sehingga menjadi hidangan yang lezat, dan dibawa ke Nyai Buto Ijo, istri Yai Buto Ijo. Tak mengetahui bahwa hidangan tersebut adalah mayat suaminya, Nyai Buto Ijo melahapnya dengan sukacita. Setelah selesai barulah ia diejek penduduk dengan mengatakan bahwa Nyai matanya dua tapi melahap suaminya. Nyai Buto Ijo terkejut setengah mati. Sontak raksasa tersebut mual-mual dan memuntahkan seluruh isi perutnya sebelum akhirnya ia limbung dan roboh. Nyai Buto Ijo mati menyusul suaminya. Sorak sorai penduduk desa membahana menyambut kemenangan Sekepel, si mungil yang menjadi pahlawan desa. Akhirnya desa tersebut kembali tenteram dan damai seperti semula.