Wawancara dengan Bpk. Nasrul Ilah, Kasi Pengembangan & Pelestarian Kebudayaan dan Buku "Peta Budaya" Kabupaten Jombang yang diterbitkan oleh Disporabudpar, tahun 2009.
Kelahiran ludruk ditengarai oleh munculnya seni lerok dan selanjutnya besutan. Jika merunut pada munculnya parikan atau syair yang biasa digunakan dalam ludruk, parikan sudah berkembang di Jawa Timur sejak akhir abad ke-16, bersamaan dengan munculnya kesenian ludruk bandan. Kesenian ini sangat sederhana, para pemainnya berkeliling dari desa ke desa dengan mempertunjukkan kehebatan ilmu kebal dan sejenisnya.
Ludruk telah mengalami transformasi atau perubahan bentuk sebanyak 4 kali. Diawali dari ludruk bandan, lerok, lalu besutan, setelah itu baru dikenal sandiwara ludruk seperti yang ada saat ini. Namun demikian, hingga kini belum ada penelitian yang teruji secara ilmiah mengenai asal usul ludruk. Adanya berbagai versi tentang ludruk dan tokoh-tokohnya memiliki versinya masing-masing. Mereka seakan-akan enggan memberi pernyataan bahwa pendapatnyalah yang paling benar.