Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKoset dan Pethel
Cerita rakyat Koset dan Pethel bercerita tentang sebuah keluarga dengan dua anak laki-laki. Mereka hidup rukun dan saling membantu. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing, demikianlah semboyannya. Jika yang satu ditimpa musibah atau kesusahan, maka yang lain turut merasakan. Sebaliknya jika menghadapi hal yang membahagiakan, seluruh keluarga akan turut senang. Hari berganti hari, kedua anak dalam keluarga tersebut beranjak remaja. Kedua anak ini memiliki tabiat yang sangat bertolak belakang. Guna memudahkan mengenali kedua anak tersebut, maka orangtuanya memberi nama sesuai dengan kesukaan dan watak masing-masing. Anak yang pertama diberi nama Koset, karena ia sangat suka bermalas-malasan. Pekerjaan sehari-harinya hanya makan dan tidur. Sedangkan adiknya bernama Pethel, memiliki sifat rajin, suka membantu orang tua, dan suka hidup prihatin. Sifat sang kakak yang pemalas ternyata tidak merisaukan sang adik. Setiap hari Pethel mencari daun-daunan dan kayu kering di hutan. Tak lupa ia membawakan buah-buahan yang dijumpainya di hutan untuk sang kakak, kadang pisang, durian, jambu, mangga, dan sebagainya. Sebaliknya Koset yang setiap harinya hanya makan dan tidur akan sangat marah apabila adiknya diganggu orang. Apapun yang terjadi pada adiknya akan dibelanya walaupun nyawanya sendiri menjadi taruhannya. Semakin lama mereka tumbuh menjadi pemuda dewasa dan orangtuanya menghendaki mereka merantau jauh ke negeri orang untuk mengubah nasib. Singkat cerita, Koset dan Pethel pun menuruti kehendak orangtuanya. Mereka berangkat merantau mangadu nasib di negeri orang. Mereka berdua terus berjalan keluar masuk desa, naik turun gunung dan menyusuri rimba belantara. Perbekalan yang diberikan orangtuanya semakin menipis, terutama bagian Koset yang telah habis sebelum waktunya. Pethel yang hanya makan sedikit-sedikit dengan rela memberikan bagiannya untuk kakaknya. Ketika perjalanan mereka melewati pasar desa, tampak Koset bergembira sekali dan serta merta menghabiskan uangnya untuk membeli segala macam minuman. Adapun Pethel hanya membelanjakan seperlunya saja. Entah sudah berapa hari mereka mengembara, bekal Koset sudah habis tak tersisa, sedangkan uang Pethel hanya tinggal satu keping saja, karena bagiannya yang lain juga telah dihabiskan Koset. Hal tersebut karena Koset tidak bisa menahan diri untuk tidak membeli makanan, sehingga lama-kelamaan uang Pethel ikut terpakai juga. Kini kakak beradik itu hanya menyisakan pakaian yang melekat di badan. Koset merasa bersalah melihat keadaan tersebut dan melakukan aksi tutup mata agar tidak lagi memiliki keinginan membeli sesuatu. Namun ternyata aksi tutup mata tidak banyak berpengaruh karena telinga Koset masih bisa mendengar segala sesuatu yang ditawarkan para penjual. Akhirnya Pethel memutuskan untuk berpisah dengan kakaknya dan berjalan sendiri-sendiri demi masa depan mereka masing-masing. Sepanjang perjalanan Koset yang terkenal jago makan lebih menyukai lewat persawahan. Dia takut berpapasan dengan pedagang makanan dan minuman kesukaannya. Namun sayang perut Koset tidak kuat menahan lapar. Akhirnya dengan agak nekat dimana ada tanaman yang bisa dimakan, disitu Koset betah berlama-lama. Tidak hanya tanaman kacang tanah, bahkan jagung muda, ubi kayu pun dilahapnya. Sementara itu Pethel yang suka prihatin terus berusaha menahan diri. Kalau terpaksa haus dia lebih suka mencari sumber air terdekat, dan jika lapar dicarinya buah-buahan liar yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Untuk melupakan kegundahan hatinya, Pethel memungut batu-batu kecil di sepanjang jalan yang dilaluinya. Dilemparkanlah batu-batu itu ke arah depan sehingga ia terpacu untuk mempercepat langkah menuju batu tersebut. Begitu seterusnya dan setiap hari Pethel meningkatkan ukuran batu yang dilemparnya. Hari pertama hanya kerikil, hari kedua seukuran ibu jari, berikutnya sekepalan tangan, hingga akhirnya Pethel bisa mengangkat batu seukuran kerbau. Sebaliknya dengan Koset, ia tidak hanya jago makan namun telah dijuluki raja makan. Ketika awalnya hanya memakan dua lajur tanaman di sawah, pada akhirnya hanya dalam sekejap mata sanggup menghabiskan berpuluh-puluh bahkan berhektar-hektar ubi jalar, jagung muda, dan sebagainya. Singkat cerita, Koset kemudian mengikuti sayembara di sebuah kerajaan makanan dan berhasil menang. Selanjutnya Koset dinobatkan sebagai Maharaja baru Kerajaan Makanan menggantikan raja yang lama. Sedangkan Pethel di daerah lain berhasil menaklukkan seekor kerbau gila yang mengamuk dan mengganggu istana, selanjutnya juga menjadi raja karena kemenangannya mengikuti sayembara menaklukkan kerbau tersebut berhak atas tahta kerajaan. Selama puluhan tahun lamanya tidak seorangpun mengetahui bahwa dua kerajaan tersebut rajanya masih bersaudara. Kerajaan Pethel berkembang pesat, perekonomian meningkat dan segala kebutuhan rakyat terpenuhi sehingga kerajaan ini disegani kerajaan tetangga, meskipun tidak sedikit pula raja yang iri hati atas keberhasilan Maharaja Pethel. Lambat laun cerita kemakmuran kerajaan Pethel sampai juga ke telinga Raja Koset. Ia segera mengirim mata-mata untuk menyelidiki berita tersebut. Adapun Kerajaan Koset lambat laun terpuruk, bahan makanan semakin menipis. Laporan dari mata-mata menyebutkan bahwa kerajaan tetangga yang makmur dipimpin oleh seorang raja yang gemar prihatin. Sehari-hari sang raja berpuasa dan kebiasaan tersebut diikuti oleh rakyatnya sehingga negara tersebut bisa melakukan penghematan. Setelah mendengar laporan tersebut kemudian Raja Koset menyusun rencana penyerangan terhadap kerajaan yang dipimpin Raja Pethel. Namun penyerangan yang dilakukan Kerajaan Koset tidak berhasil dimenangkannya. Betapa terkejutnya Raja Pethel setelah mengetahui bahwa kerajaan tetangga yang memusuhi dan menyerangnya tak lain adalah kerajaan kakaknya sendiri. Namun karena lama sekali tidak pernah bertemu adiknya, Raja Koset tidak mengenali lagi adiknya yang menjadi raja di kerajaan yang diserangnya. Selama menjadi tawanan kerajaan Pethel, Raja Koset diberi makanan yang banyak namun lambat laun porsinya dikurangi hingga akhirnya Raja Koset bisa kembali normal selera makannya seperti orang lain. Setelah tidak rakus lagi, Raja Koset yang tawanan dipanggil menghadap Raja Pethel. Dalam pertemuan itu Raja Pethel menceritakan kisah kakak beradik yang diminta orangtuanya merantau dan keduanya memiliki kebiasaan yang bertolak belakang hingga akhirnya berpisah. Mendengar cerita tersebut Raja Koset tidak mampu membendung airmatanya dan menyadari bahwa yang dihadapannya adalah Pethel adiknya yang sebetulnya sangat disayanginya. Kemudian Raja Koset meminta maaf pada adiknya. Akhir cerita kakak beradik itu selanjutnya hidup penuh kedamaian di kerajaannya masing-masing.