Menurut Legenda Rakyat, di dusun ini dulu ada seorang pengembara di daerah lereng Gunung Sumbing bernama Eyang Dipodromo. Karena ia pandai olah kanuragan dan batin sehingga banyak orang yang nyantrik. Lama kelamaan Eyang Dipodromo dikenal sampai keluar daerah. Pada suatu hari ada seorang penari tayub dari yogyakarta yang bertemu Eyang Dipodromo. Namun sebelum ketemu, penari tayub tersebutmeninggal dunia, dan dimakamkan di situ. Eyang Dipodromo berpesan pada warga Krandhengan agar setiap bulan Sapar warga dusun ini supaya menyelenggarakan acara Saparan merti dusun dengan naggap Tayuban. Dengan tayub dan adanya acara ruwat Bumi Saparan, Dusun Kradhengan akan gemah ripah loh jinawi, ayem tentrem.
Ruwat Bumi Dusun Kradhengan, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang dilaksanakan pada bulan Sapar, sehingga ritual ini juga dikenal dengan sebutan Saparan. Acara tersebut sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rejeki kepada warga Dusun Kradhengan.
Ruwatan ini dengan menyediakan sesaji lengkap untuk yang “mbaurekso” desa dengan menggelar berbagai macam kesenian, dimana tayub merupakan kesenian yang wajub ada.