Penduduk Asembagus menggelar ritual pawai Komantan Korong atau pengantin kurung dalam sebuah acara pernikahan. Dinamakan demikian karena dalam ritual itu pengantin laki-laki akan dimasukkan ke dalam kurungan. Pengantin laki-laki yang ada di dalam kurungan itu lalu diarak mengelilingi sejumlah desa yang tersebar di sekitar Asembagus. Ritual Komantan Korong ini dilakukan sebagai simbol agar kehidupan keluarga mereka bahagia serta menjadi keluarga sakinah. Pengantin laki-laki yang dimasukan ke dalam kurungan didoakan tak berselingkuh dengan perempuan lain. Usai melakukan ritual Komantan Korong, sejumlah warga juga melakukan ritual tolak bala atau menolak sial untuk mengantisipasi terjadinya musibah. Ritual dilakukan dengan tarian "Muang Sankal" yang artinya membuang sial atau tarian tolak balak. Ritual sakral ini dilengkapi dengan sesajen dipimpin tokoh adat setempat. Kegiatan ritual Komantan Korong dan ritual Muang Sial ini sudah ada pada tahun 1800-an, saat dua orang pangeran Sumenep turun ke Asembagus.