Sejarah :
Tari tiban ini pada mulanya adalah merupakan tarian anak-anak gembala yang berebut air untuk ternaknya saat kemarau panjang.
Tarian dilakukan secara berkelompok, mereka mengadu kekuatan dengan menggumakan cambuk sebagai senjatanya.
Sementara mereka berkelahi dengan saling mencambuki, turunlah hujan yang sangat lebat.
Dengan adanya peristiwa seperti itu maka tarian tiban ini di tradisikan sebagai sebuah tarian yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk segera diberikan turun hujan.
Dilakukan menjelang musim tanam pada musim kemarau dan belum turun hujan.
Deskripsi:
Tarian tiban dilakukan siang hari di musim kemarau menjelang musim tanam tetapi belum turun hujan.
Tarian ini menggunakan cambuk sebagai senjata berkelahi. Cambuk tersebut terbuat dari lidi enau aren yang dipintal dengan jumlah tertentu.
Dalam tarian ini ada yang disebut "Landang". Landang adalah pimpinan permainan yang dipilih karena dianggap bijaksana dan menguasai peraturan, permainan yang paling senior.
Dengan diiringi gamelan pelog dan gendhang dengan irama yang dinamis, menggugah pemain semakin bersemangat dan energik untuk saling mencambuk secara bergantian.
Peserta / penari dilarang mencambuk di bagian leher ke atas, hanya boleh dikenakan di bagian punggung