Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Cing cing Goling - Panggang, Kab. Gunung Kidul, DI Yogyakarta
Runtuhnya Majapahit berakibat para bangsawan dan kerabat keraton bercerai-berai mengungsi, salah satunya yang bernama Raden Wisang Sanjaya dan isterinya dengan abdi dalem kepercayaan, Ki Tropoyo mengungsi ke barat menyusuri gunung dan jurang. Supaya bisa berjalan cepat Nyi Wisang Sanjaya tanpa sadar menyingkapkan kainnya (jawa: cincing) sehingga terlihat betisnya, membuat para pria tergiur (jawa: nggoling atine). Godaan dari lelaki dan berandal datang silih berganti, namun berkat kesaktian cemeti pusaka Ki Tropoyo, berbagai godaan dan cobaan dapat diatasi. Perjalanan mereka sampai di Dusun Gedangan, dan hidup tenteram bersama masyarakat, bahkan berhasil memnuat bendungan di sungai Kedung Dawung, digunakan untuk irigasi sehingga menambah kemakmuran masyarakat Gedangan. Sejak saat itu, setelah panen padi masyarakat mengadakan upacara Kenduri di lokasi bendungan Upacara ini memperingati jasa Ki Wisangsanjaya dari kerajaan Majapahit dalam pembuatan bendungan atau pengairan. Upacara ini dilakukan dengan mengadakan kenduri di lokasi bendungan disertai pementasan kesenian adat yang menggambarkan perjalanan Raden Wisang Sanjaya beserta isteri dan Ki Tropoyo. Upacara dilakukan setiap tahun setelah panen padi pertama, bertepatan hari Kemis Kliwon atau Senen Wage pukul 13.00 WIB sekitar bulan Juli-Agustus. Prosesi Cingcing Goling dimainkan 24 orang, salah satunya berperan sebagai Nyi Wisang Sanjaya. Semua tokoh pemainnya laki-laki. Benda-benda dan peralatan yang digunakan: tumpeng, nasi gurih, imgkung ayam, ambeng, panjang ilang. Upacara di pimpin oleh kaum.