Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKesenian Wayang Timplong Nganjuk
Wayang Timplong merupakan kesenian khas di Kabupaten Nganjuk yang hanya dipentaskan untuk keperluan khusus, seperti pada acara bersih desa, ruwatan, dan melepas nadar. atau acara di tempat keramat tertentu. Asal mula Wayang Timplong yang ada di Desa Jetis, Kecamatan Pace, Kabupaten Ngawi ini diciptakan oleh Mbah Boncol, yang sekaligus juga sebagai dalangnya. Keahlian Mbah Boncol ini kemudian dilanjutkan oleh anak cucunya secara turun-temurun. Saat ini sudah sampai pada generasi yang kelima. Wayang Timplong dibuat dari kayu, berbentuk pipih, dan tangannya terbuat dari kulit. Wayang Timplong berjumlah kurang lebih 100 buah, dan dilengkapi pula dengan gunungan yang terbuat dari burung merak dan golekan, yang biasanya dimainkan di awal dan akhir pertunjukan. Untuk menancapkan wayang digunakan gedebog ‘batang pisang’, dilengkapi dengan layar atau kelir di kanan dan kiri dalang. Ukuran geber 2,5 x 3 meter, berwarna kuning yang ditepinya diberi lipatan berwarna hitam dan hiasan. Peralatan gamelan pengiring wayang timplong 9 macam, yaitu gendang, gambang 3 buah, kenong, gong, gender barung, saro barung, dan siter. Lakon atau cerita dalam Wayang Timplong tentang Kerajaan Kediri, Jenggala, Majapahit, dan Babad Tanah Jawi. Cerita Wayang Timplong sangat terbatas bila dibandingkan dengan lakon wayang kulit. Cerita Wayang Timplong antara lain: Baru Klinting, Kudawaris, Joko Slewah, Sarukrama/Dewi Kasihan, Panji Mirap Miring, Salikin, Lukin dan Salikun, Jaka Suwarno, Tejalengkawa, Darupati, Jaka Umbar, Gandakusuma, Mlaya Kusuma, Sumoyuda, Endang Larajuwita, Lembu Amiluhur, Gandek Mantri Anom, Dewi Galuh, Syah Kasan, Bujangganong, Jaka Sundang, Begawan Kilasarupa, Begawan Gunawasesa, dan Begawan Ngarit dan Kedrah.