Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Siram Pusaka Srigati - Ngawi, Jawa Timur |
Sejarah:
Upacara adat siram pusaka Srigati Ngawi berdasarkan cerita lisan yang dituturkan oleh para pendahulu , dikatakan bahwa upacara adat ini dimulai sejak runtuhnya kerajaan Mataram. Pada waktu itu yang dijamas /disiram adalah pusaka yang berupa tumbak yang dikenal dengan nama Kyai Plered. Tumbak Kyai Plered semula adalah pusaka Danang Sutawijaya sewaktu berperang melawan Adipati Aryo Penangsang dari Jipang-Panolan. Setelah Mataram jatuh, masyarakat setempat meyakini bahwa pusaka tersebut berada di suatu tempat di tengah hutan yang disebut Srigati. Sekarang tempat tersebut berada di desa Babadan, hutan Ketonggo, Kecamatan Paron, Kab. Ngawi.
Sesudah Proklamasi RI, pusaka itu yang tertinggal adalah duplikatnya, yang setiap tahunnya dijamas bersama tumbak Kyai Singkir, pusaka Kabupaten Ngawi.
Deskripsi:
Upacara siraman pusaka dilakukan setiap tahun sekali pada bulan Sura (Jawa), bertempat di hutan Ketonggo. Upacara ini diawali dengan selamatan di Srigati, dengan menyerahkan pusaka dan selamatan kepada ketua adat., untuk dijamas. Untuk upacara selamatan ini dilengkapi dengan sesaji-seaji yang berupa nasi uduk, ingkung ayam, lauk-pauk, pisang ayu, bunga setaman. Kemudian juga dilengkapi dengan kembang telon, kepala kerbau atau kepala sapi.
Selanjutnya dilakukan upacara menanam sesaji. Kepala kerbau atau kepala sapi setelah diberi sesaji ditambah dengan doa dan mantra ditanam di perempatan jalan masuk ke Srigati yang dimaksudkan sebagai tolak bala. Bunga telon, dupa kemudian diletakkan di atasnya( di atas tanah timbunan kepala kerbau/kepala sapi tersebut).
Selanjutnya baru dilakukan jamasan pusaka yang dilakukan oleh ketua adat dibantu oleh para cantriknya atau muridnya. Setelah jamasan selesai kemudian dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh ketua adat. Adapun isi doa tersebut adalah berupa ucapan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan perlindungan berkah dan rahmatnya yang telah dilimpahkan ke seluruh warga masyarakat Ngawi dan seluruh warga yang berkunjung ke hutan Ketonggo, Srigati Ngawi. Mereka telah diberi keselamatan, berkat dan rahmat sehingga mereka secara bersama-sama mampu membawa Ngawi semakin maju dan berjuang sesuai dengan motto Kabupaten Ngawi “Berjuang”.
Upacara ini diakhiri dengan pesta rakyat, sebagai cara untuk mengucap syukur dengan pertunjukan berupa wayang kulit, kethoprak, ludruk, gambyong ,lawak/dagelan.
Pesta ini tidak selalu dilakukan pada malam harinya tetapi kadang dilakukan pada tanggal 15 Sura tepat di bulan purnama.