Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Keduk Beji - Ngawi, Jawa Timur
Sejarah: Upacara ini dipercaya oleh masyarakat Desa Tawun bahwa upacara ini sudah ada sejak jaman nenek moyang namun tidak dibukukan. Menurut catatan milik desa setempat menyebutkan bahwa tradisi ini sudah ada sejak tahun 1920-an. Upacara ini merupakan warisan dari Eyang Ludro Joyo yang merupakan cikal bakal desa, dahulu pernah bertapa di sumber Beji untuk mencari ketenangan dan kesejahteraan hidup. Setelah bertapa dalam jangka waktu yang cukup lama, tepat di hari Selasa Kliwon Eyang Lodro Joyo ini hilang yang kemudian timbullah air sumber yang cukup besar. Ternyata sumber itu bisa digunakan untuk mengairi pertanian, sehingga bisa memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi warga masyarakat Desa Tawun. Untuk menghargai dan mengenang cikal bakal Desa maka di setiap tahun diadakan tradisi yang kemudian dinamakan tradisi keduk beji. Deskripsi: Upacara Keduk Beji ini diadakan setiap tahun sekali sehabis panen, dan mengambil hari Selasa Kliwon, berdasarkan penghitungan tanggal Jawa Islam.. Upacara ini dimaksudkan untuk tolak bala dan memohon pada Tuhan untuk keselamatan dan memohon agar masyarakat desa senantiasa mendapat kesejahteraan dari Tuhan YME. Dalam upacara adat itu masyarakat Desa Tawun membuat sesaji yang isinya makanan-makanan antara lain, jadah, jenang, rengginang, lempeng, tempe, buah pisang, kelapa, bunga dan telur ayam kampung. Sesaji ini nanti akan diseberangkan di sumber tersebut dari arah timur ke barat. Pelaksanaan upacara adat ini diawali dengan pengedukan/pengerukan dan pembersihan di dalam sumber beji tersebut. Semua warga masyarakat baik pria maupun wanita, anak dan dewasa, semua terjun ke dalam sumber tersebut untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun itu. Mereka berbasah-basah sambil berteriak-teriak bahkan diwarnai dengan mandi lumpur terutama para pemuda. Karena mandi lumpur dipercaya bisa membuat awet muda dan sehat. Adapun inti dari upacara ini yaitu terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi di pusat sumber beji tersebut yang telaknya ada di dalam gua yang terdapat di dalam sumber. Kendi ini setiap tahunnya diganti untuk menjaga sumber air tersebut tetap bersih. Selain itu menurut sesepuh desa mengatakan bahwa upacara ini merupakan salah satu cara untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak jaman dahulu, juga sebagai pelestarian nilai positf yang terkandung dalam prosesi ritual tersebut yaitu gotong royong, kerukunan dan saling memaafkan. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kab. Ngawi, Agus Santosa mengatakan bahwa dalam tradisi itu ada nilai luhur yang ingin dilestarikan yaitu pelestarian sumber air yang sangat bermanfaat bagi masyarakat desa, dan pelestarian sifat ajakan warga Desa Tawun untuk menghormati tata kehidupan para leluhurnya yang baik.