Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaLarung Sesaji/Larung Sarangan; Larung Tumpeng - Magetan, Jawa Timur
Asal mula adanya larung sesaji ini tidak diketahui secara pasti, masyarakat tahunya bahwa tradisi ini merupakan tradisi turun temurun yang diwariskan dari nenek moyang dan harus dilestarikan. Menurut legenda yang diyakini oleh masyarakat sekitar Sarangan bahwa tradisi larung sesaji ini berkaitan dengan mitos asal mula Telaga Sarangan. Diyakini bahwa di situ di pulau/telaga ada tinggal penunggu yang meminta tumbal sesaji setiap tahunnya. Apabila tidak diberi sesaji maka penunggu itu akan marah dan membuat bencana. Untuk itulah maka agar penunggu itu tidak marah kemudian setiap tahun dibuatlah sesaji yang kemudian dilarung di Telaga Sarangan dan pada perkembangannya disebut larung sesaji/larung tumpeng/larung sarangan. Hingga saat ini tradisi ini masih tetap dilaksanakan bahkan sudah menjadi agenda wisata Kabupaten Magetan. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan Telaga Sarangan dengan mitos-mitos legendaris serta kebudayaan masyarakat sekitar masih menjadi tradisi yang melekat hingga kini. Deskripsi: Tradisi Larung Tumpeng merupakan salah satu tradisi budaya di Indonesia. Tradisi ini dilangsungkan di Telaga Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. Upacara adat/tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sekali setiap bulan Ruwah menjelang Ramadhan dengan mengambil hari Jumat Pon Upacara adat Larung Sesaji/Larung Tumpeng atau Larung Sarangan bertujuan untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas berkahnya selama ini dan memohon pada Tuhan agar telaga sarangan tetap lestari dan warganya mendapatkan kemakmuran dan bisa hidup sejahtera. Larung sesaji merupakan puncak upacara bersih desa masyarakat sekitar telaga Sarangan untuk memasuki bulan Ramadhan. Dengan bersih desa warga Sarangan dipersiapkan untuk menjalankan bulan suci Ramadhan. Selain itu tradisi ini juga dilakukan warga masyarakat Sarangan terhindar dari marabahaya dan bencana. Prosesi larung sesaji diawali dengan kirab tumpeng Gono Bahu yang dibuat dari nasi setinggi 2,5 m, dan biasanya menghabiskan beras 50 kg desa de mengelilingi desa dengan pakaian adat. Pemberangkatan tumpeng dimulai dari Kelurahan Sarangan kurang lebih 500 m menuju panggung di pinggiran Telaga Sarangan. Sesaji tumpeng ini dibawa dengan berjalan kaki dan dipikul oleh 4 orang. Upacara dipusatkan di punden desa, tepatnya di sebelah timur telaga. Di tempat ini para pejabat Kabupaten Magetan, para perangkat desa, sesepuh dan tokoh masyarakat serta para warga masyarakat berkumpul untuk mengadakan sesaji. Setelah semua sesaji diterima oleh sesepuh desa, maka sesepuh desa membakar kemenyan serta membaca doa. Setelah pembacaan doa selesai , sesaji dibawa ke telaga untuk dilarung, kecuali sesaji yang berisi nasi tumpeng yang berukuran kecil, panggang ayam, cok bakal, dan bunga telon ditinggal di punden desa. Usai pembacaan doa, tumpeng sesaji diarak mengelilingi telaga Sarangan dengan menggunakan kapal motor. Setelah sampai di tengah telaga, tumpeng dilarung atau ditenggelamkan. Selain tumpeng Gono Bahu juga ada tumpeng-tumpeng dengan ukuran besar yang berisi sayuran, buah-buahan dan hasil bumi sekitar Sarangan. Dengan dilarungnya sesaji tersebut maka selesai sudah tradisi larung sesaji tersebut. Warga Sarangan dan warga masyarakat pada umumnya berharap dengan selesainya upacara tersebut berharap dapat dijauhkan dari segala musibah dan bala serta kehidupan masyarakat akan lebih baik. Dengan ritual yang dilaksanakan setiap tahun tersebut masyarakat Sarangan meningkat perekonomiannya baik yang berdagang, usaha hotel, restoran, jasa perahu dan usaha-usaha lainnya. Adanya ritual tersebut juga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke telaga Sarangan. Semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke Telaga Sarangan semakin bertambah pula pendapatan penduduk di sekitar telaga Sarangan dan juga meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD)