Cing-cinggoling dikaitkan dengan mitos yang menggambarkan istri Ki Wisangsanjaya (yang kemudian berganti nama Kyai Godhangan) yang dikejar – kejar oleh pemuda dan orang-orang ingin memperistrinya. Namun semua itu dapat diatasi oleh Ki Wisangsanjaya, sehingga istri Ki Wasangsanjaya tetap selamat dan tetap menjadi istri Beliau, sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan YME, karena berkat bendungan yang dibuat atas ide Kyai Gedhangngan pada zaman dahulu masih bermanfaatuntuk masyarakat setempat.
Upacara Cing-cinggoling dilaksanakan di ligkungan Kedhung Dhawung, Desa Gedhangrejo, Kecamatan Karangmojo Setelah masa panen kedelai marengan, tepatnya bulan Besar ( penanggalan jawa). Pelaksanaannya jatuh pada hari Senin Wage atau Kamis Wage. Sehari sebelum dilaksanakan upacara, dibuat ‘Panjang Ilang” sebagai tempat umbarampe (Sesaji). Pada malam harinya diadakan malam tirakatan. Pada siang harinya diselenggarakan puncak acara ini yang dipimpin seorang kaum. Bagi masyarakat yang melepas nadzar ikut memberikan sesaji berupa nasi wuduk dan ingkung ayam yang ditempatkan dalam tenggok. Ingkung-ingkung tersebut dikumpulkan menjadi satu. Setelah kenduri bersama diikrarkan oleh kaum kemudian digelar tarian Cing-Cinggoling yang dimainkan oleh 24 penari pria dengan iringan lagu hanya mulut.