Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaSelamatan Negalke Wiji
Sebagian masyarakat Girisekar menganggap bahwa di sekitar tempat tinggal mereka terdapat makhluk halus yang dapat mendatangkan bencana tetapi juga dapat memberi keselamatan. Agar mendapat keselamatan, maka para warga pada saat tertentu perlu menyelenggarakan selamatan. Selamatan untuk tanaman padi sering dikaitkan dengan tokoh Bambang Sri Sadana. Hal ini dapat dilihat pada saat kaum mengucapkan doa, maupun adanya padi mantenan yang diletakkanb di senthong yang juga untu menggambarkan penghormatan kepada Sri dan Bambang Sadana,. Selamatan ini dilakukan oleh antek (seorang warga yang ditunjuk menjadi pimpinan pada saat selamatan). Antek negalke wiji pada saat selamatan negalke wiji membawa sajian yang dibawa ke rumah ketua RT dan sajian khusu diletakkan di sudut rumah yang ditujukan kepada leluhur.Para peserta selamatan negalke wiji punya keyakinan bahwa para arwah leluhur perlu dimintai restu. Selamatan negalke wiji dilakukan pada mangsa (musim) kapat, yaitu antara 18 September hinggal 12 November. Untuk masing-masing dusun punya patokan sendiri dalam melaksanakan selamatan ini. Selamatan negalke wiji dilakukan pada siang hari, dilakukan di rumah ketua RT. Setiap kepala keluarga membuat sajian selamatn dibawa ke rumah ketua RT. Cara membawa sajian ini ada yang menggunakan tambir ada juga yang menggunakan baskom. Ujud dari selamatan ini pada umumnya antar sesama warga sajiannya hampir sama yaitu sego liwet, tumpeng Golong pitu dan sekul wuduk