Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKerajinan Tasbih/Tasbih Kayu - Jember, Jawa Timur
Sejarah: Menurut penuturan M. Imron salah seorang perajin dari Desa Tutul Balung, masyarakat Tutul Balung sejak lama telah giat bekerja di sector kerajinan. Naik turunnya kerajinan di Desa Tutul Balung tergantung pada permintaan pasar dan mengikuti trend yang ada. Di desa tersebut sekarang ada sekitarlebih dari seribu orang yang bisa membuah kerajinan termasuk dari bahan kayu. Menurut penuturan M. Imron, desa Tutul Balung dahulu adalah desa pertanian, namun kemudian banyak lahan yang dipakai untuk menanam pohon dan pohon tersebut dibuat sebagai kayu bakar. Dari sisa-siasa kayu tersebut masyarakat memanfaatkannya untuk dibuat kerajinan, dan kemudian kerajinan itulah yang mendominasi mata pencaharian penduduk setempat. Dahulu Desa Tutul Balung pernah menjadi sentra kerajinan gerabah, kemudian beralih ke manik-manik dan juga ke bahan dasar kayu. Sampai saat ini kerajinan yang berkembang di desa tersebut memiliki bahan baku yang bermacam-macam antara lain dari kayu (gaharu, kukun). Desa Tutul Balung telah ditetapkan sebagai desa wisata berbasis ekonomi kreatif. Berbagai kerajinan seperti tasbih, kalung, gelang, tongkat, dengan berbagai bahan baku dapat ditemukan di desa ini. Deskripsi: Kerajinan kayu di Tutul Balung awalnya berasal dari bahan baku limbah kayu. Limbah kayu yang awalnya hanya dimanfaatkan untuk kayu bakar mulai lebih dimanfaatkan dan dikreasikan sebagai bahan dasar pembuatan manik-manik. Pembuatan manik-manik yang simpel dengan bahan baku yang tersedia luas serta ditunjang dengan masyarakat yang mulai menghargai seni dan kreasi serta ber inovatif dapat diwujudkan dalam bentuk kerajinan. Dari limbah kayu kemudian meningkat dengan memakai berbagai jenis kayu dari sono keeling, kukun hingga kayu gaharu. Hasil kerajinanpun bervariasi dan yang paling banyak diminati pembeli adalah tasbih.Pemasaran kerajinan dari desa Tutul Balung telah mencapai luar negeri, antara lain di China, Malaysia, Saudi Arabia dan juga Amerika. Pemasaran local di Jawa dan Bali juga tetap mendominasi distribusi kerajinan dari Tutul Balung. Para perajin menerima setoran kayu dari berbagai daerah. Untuk kayu gaharu kebanyakan dari Kalimantan, kayu kukun dari Bondowoso. Setiap kayu yang diterima perajin sudah digergaji dan dipotong-potong dalam ukuran tertentu. Proses mulai kayu digergaji sampai berbentuk bulatan tasbih kemudian diberi pewarna dan menjadi untaian tasbih sekitar satu minggu. Kayu kukun setelah berbentuk bulat untuk tasbih dirangkai menjadi tasbih dengan ukuran mulai kecil sampai besar bervariasi isi 33 dan 99 biji untuk muslim sedangkan tasbih Buddha isi 108 biji. Bentuk tasbih untuk muslim kepalanya tulisan Al Quran sedangkan tasbih Buddha kepala tasbihnya berbentuk puncak klenteng.