Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Petik Laut Puger/Slametan Desa - Jember, Jawa Timur |
Sejarah:
Masyarakat Puger sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan. Hal itu karena lokasi Puger pada bagian selatan berbatasan langsung dengan laut. Ekologi masyarakat nelayan melahirkan budaya yang antara lain tercermin dalam upacara ritual.
Upacara ritual sejak lama dilakukan oleh masyarakat Puger, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Di samping itu masyarakat juga memohon keselamatan dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa agar kegiatan melaut tidak mendapat halangan dan rintangan.
Ungkapan syukur atas rizki serta permohonan keselamatan dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk slametan desa dengan membuat kenduri bersama dan kemudian membuat sesaji di laut. Dalam perkembngannya selamatan desa itu bertransformasi menjadi upacara larung sesaji atau masyarakat setempat juga menamainya sebagai upacara petik laut. Upacara tersebut sekarang menjadi ikon masyarakat Puger dan dilakukan dengan menggandeng pihak lain. Ritual dilakukan dengan kemasan yang meriah dan menarik.
Deskripsi:
Upacara Petik Laut Puger dilakukan setiap tahun pada tanggal 1 Sura. Kegiatan itu diawali dengan kenduri dan kemudian tasyakuran (pengajian) di balai desa, yang dipimpin oleh kepala desa bersama dengan tokoh agama. Kegiatan tersebut diikuti oleh kepala keluarga di Puger Wetan.
Pada pagi harinya upacara ritual petik laut dilaksanakan. Para pelaku ritual memakai pakain tradisi. Sementara para ibu sibuk mempersiapkan ubarampe yang akan di larung, ibu kepala desa dibantu oleh ibi-ibu lain mempersiap sesaji. Setelah semuanya siap, sesaji dan barang-barang yang akan dilarung ditempatkan didalam ancak dan dipanggul menuju balai desa. Dari balai desa setelah acara sereminial, arak-arakan menuju ke Pantai Puger dan kemudian membawa sesaji dan ubarampe ke tengah laut. Ubaramape itu di bawa dengan perahu kecil dan oleh masyarakat sesaji itu diperebutkan. Masyarakat mempercayai bahwa barang-barang yang dilarung tersebut memiliki tuah, sehingga siapa yang mendapatkan benda sesaji maka akan mendapat rizki yang berlimpah di tahun tersebut.
Para nelayan mengiringi acara larung sesaji tersebut dengan sangat riang gembira. Sejumlah sesaji itu kemudian dilepas ke laut. Oleh para nelayan sesaji yang dilarung lalu dijadikan bahan rebutan antar sesama nelayan.Menurut kepercayaan masyarakat nelayan, bagi mereka yang mendapatkan larung akan menperoleh berkah dan rejekinya bertambah selama setahun. Dalam ritual tersebut selain sebagai ungkapan rasa syukur terhadap tuhan yang maha kuasa atas limpahan rejeki yang diperoleh di laut. Para nelayan juga berdoa dengan harapan terhindar dari berbagai bencana laut termasuk cuaca buruk tidak terus saja terjadi, gelombang pasang serta angin yang tidak bersahabat.