Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaSedekah Bumi Jepangrejo - Blora, Jawa Tengah
Upacara sedekah bumi Jepangrejo, dilaksanakan pada Jumat Kliwon sehabis masa panen. Tempat yang dijadikan sebagai pusat kegiatan ada dua yakni sumur brumbung dan rumah kami tuo. Kegiatan tersebut dilakukan oleh masyarakat Jepangrejo, Kecamatan Blora Kabupaten Blora. Sumur Brumbung dipercaya oleh masyarakat Jepangrejo sebagai sumber mata air sejak zaman cikal bakal Desa Jepangrejo, yakni Nyai Sablah yang tinggal di dekat sumur. Rumah Kamituo, sebagai orang yang dituakan di Desa Jepangrejo. Di tempat itu diadakan acara bancaka/ hajatan dan hidangan utama adalah nasi bungkus yang disetor atau dibuat oleh para warga. Tahap Pelaksanaan: - Kegiatan sedekah bumi dilakukan oleh warga Jepangrejo dengan membentuk sebuah panitia. Panitialah yang mengatur jalannya sedekah bumi, termasuk menentukan besarnya iuran yang harus disetorkan oleh setiap kepala keluarga. - Masyarakat menjelang hari H mulai membersihkan sumur Brumbung yang dianggap sebagai cikal bakal sejak orang pertama yang menghuni Jepangrejo yakni Nyai Sablah. Dan Nyai Sablah oleh masyarakat setempat dianggap sebagai dhanyang desa atau penjaga desa. - Warga membuat makanan untuk disajikan di acara sedekah bumi selain itu juga untuk menjamu tamu undangan yang hadir di acara sedekah bumi. Makanan yang disajikan berupa nasi ambeng, yang berisi nasi, bumbu, bucu, ingkung, dan jajanan berupa pasung, kue bugis, nogosari, apem, gemblong, dan krecek. - Warga mengirimkan makanan kepada sanak saudara yang tinggal di lain desa. - Setiap rumah menyetorkan dua bungkus nasi kepada panitia. Nasi bungkus (biasanya memakai daun jati) dikumpulkan di ketua RT setempat kemudian ditata seperti gunungan dan dibawa ke tempat kamituo. - Gunungan yang berasal dari nasi bungkus daun jati tersebut didoakan oleh modin dan kemudian nasi bungkus dibagiakan kepada yang hadir di acara itu, masing-masing orang mendapat 1 bungkus nasi. - Hiburan yang selalu ditampilkan pada acara itu adalah tayup, yang biasa digelar di siang hari. Sedangkan pada malam harinya ada kegiatan tambahan berupa pengajian. Menurut kepercayaan masyarakat setempat Nyai Seblah sering menampakkan diri sedang membersihkan lingkungan di sekitar sumur. Tayup selalu ditampilkan dalam acara Sedekah Bumi Jepangrejo, sebab dari cerita yang berkembang di masyarakat, apabila tidak ada pergelaran tayup maka di Jepangreja akan terkena gagal panen. Maksud dari ritual sedekah bumi Jepangreja adalah untuk sarana permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Desa Panjangrejo mendapat perlindungan dan kesejahteraan