Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Benta Benti Siandong |
Upacara Benta-Benti merupakan upacara meminta hujan yang berkembang di Desa Siandong, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes. Ritual tersebut digelar pada saat musim kemarau panjang datang melanda desa. Upacara Benta Benti diadakan pada malam Jumat Kliwon, tidak boleh diganti hari lain. Hal itu karena menurut kepercayaan masyarakat setempat Jumat Kliwon dianggap sebagai hari yang sakral untuk melakukan upacara-upacara yang ada kaitannya dengan hal-hal gaib. Pada upacara Benta-Benti terdapat sebuah penyajian tari yang dijadikan sebagai syarat diadakannya upacara sakral tersebut.
Upacara Benta-Benti pelaksanaannya ditandai dengan instrumen bedug dan rebana. Upacara dilakukan pada malam Jum’at kliwon dimulai pukul 21.00 sampai selesai, ritual ini berlangsung kurang lebih selama dua jam, kemudian setelah juru kawih (pawang) mulai membacakan mantra atau syair yang berisi doa-doa, ritual Benta-Benti pun segera dimulai. Pawang kemudian meletakkan boneka jelangkung di tengah arena ritual, setelah itu penari Benta-Benti pun mulai melakukan gerakan dengan iringan musik syair-syair yang dibawakan juru kawih (pawang). Juru kawih menyanyikan mantra untuk memanggil ruh-ruh untuk merasuki penari, jika penari pingsan maka pertanda jika ruh telah datang dan ritual pun dianggap telah berhasil, kemudian juru kawih membacakan syair berikutnya untuk membangunkan penari. Setelah itu upacara dilanjutkan yakni melantunkan doa permintaan turun hujan, sebagai inti diadakannya upacara tersebut. Setelah melakukan doa dan menebarkan sesajen, penari disadarkan dengan doa oleh juru kawih, kemudian boneka jelangkung dibungkus dengan kain putih, dan ritual Benta Benti pun berakhir.
Tari dalam upacara Benta-Benti ini berfungsi sebagai syarat dan pelengkap upacara tersebut, karena penari pada upacara Benta-Benti dijadikan sebagai media komunikasi masyarakat dalam melakukan permohonan terhadap ruh gaib yang merasuki tubuh penari.