Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi Ider-ider - Wonosobo, Jawa Tengah |
Sejarah
Asal Mula Nama Desa Candiyasan
Pada masa penjajahan Belanda datang sekelompok orang asal Yogyakarta yang masih kerabat kraton Mataram ke daerah Kertek. Mereka ini adalah Mbah Rantan Sari, Roro Rayi, Mbah Krai Candiyasan, Mbah Nogorombang dan Norogunting. Setelah mereka wafat dimakamkan di kompleks candi Budha. Semasa hidupnya mereka membuka pemukiman di Jurang Jero, dengan demikian mereka sebagai cikal bakal tempat tersebut. Nama desa Candiyasan mengambil nama dari salah seorang cikal bakal tersebut. Tidak ada yang dapat menjelaskan kapan para pendatang dari Yogyakarta tersebut mulai berada di Kertek.
Sampai sekarang warga Jurang Jero punya tradisi melakukan penghormatan kepada para cikal bakal dan leluhur untuk mengenamh jasa mereka. Penghormatan ini dilakukan setiap tanggal 1 Suro dengan cara mengadakan ider-ider. Kegiatan ini selain dalam rangka mengenang cikal bakal dan leluhur juga dapat digunakan sebagai ajang silahturahmi.
Deskripsi
Setiap tanggal 1 Suro warga Jurang Jero menyelenggarakan upacara ider-ider yaitu sebagai sarana menghormati cikal-bakal dan leluhur. Kegiatan ider-ider dilengkapi sesaji yang berupa ambengan bucu, ingkung ayam dan lauk-pauk. Ider-ider dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan kesenian yaitu barongan, musik rebana, ledok atau tayub. Pusat kegiatan dilakukan di halaman sebuah candi Budha yang terletak di Dusun Jurang Jero. Pelaksanaan menyambut tanggal 1 Suro dilakukan sebagai berikut: Dari halaman candi para warga melakukan pawai mengelilingi dusun dengan diiringi berbagai pertunjukan kesenian. Perjalanan pawai ini sampai ke lorong-lorong jalan. Saat itu para warga yang rumahnya dilewati rombongan pawai, mereka lalu keluar. Mereka telah menyiapkan sebuah wadah untuk meletakkan sesaji tersebut. Menurut anggapannya sesaji tersebut ada berkahnya sehingga berusaha mendapatkan dan dimakan.
Setelah pawai seleai adab sekelompok grup penari yang mengenakan busana seragam kesenian menari sebagai ungkapan syukur atas ritual yang baru saja dilakukan. Pada malam harinya diadakan tirakatan dan pertunjukan wayang kulit. Tujuan ider-ider juga untuk menghadiahkan hasil bumi dan pertanian kepada leluhur.