Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kerajinan Kalo - Dlongo, Kab. Bantul, DI Yogyakarta |
Sejarah :
Kerajinan kalo adalah kerajinan berbahan baku bambu. Kerajinan kalo yang berlokasi di Dusun Nglingsing, Desa Banjarejo II, Kalurahan Muntuk, Kecamatan Dlingo, Bantul sudah ada sejak tahun 1960an. Hampir setiap rumah di dusun tersebut mempunyai usaha kerajinan membuat kalo. Salah satu pengrajin kalo yang hingga saat ini menekuni kerajinan kalo ini adalah Ibu Mursiyah. Kelihaian Ibu Mursiyah dalam membuat kalo tersebut merupakan warisan dari orangtuanya yang bernama Bp Muryadi.
Deskripsi:
Kerajinan kalo merupakan kerajinan dengan bahan baku bambu. Kalo termasuk alat dapur, biasanya dipakai untuk menyaring kelapa yang akan dibuat santan. Kerajinn kalo dapat ditemui di Dusun Nglingsing, Banjarejo II, Kalurahan Muntuk Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Di Dusun tersebut hampir semua rumah mempunyai usaha membuat kalo. Salah satu perajin kalo di Dusun tersebut adalah Ibu Mursiyah. Ibu Mursiyah menekuni usaha membuat kalo sejak kecil, karena orangtuanya juga perajin kalo. Sehingga kelihaian Ibu Mursiyah dalam membuat kalo adalah merupakan warisan dari orangtuanya.
Bahan baku berupa bambu didatangkan dari dusun Terong. Untuk mendapatkan bahan baku perajin membeli secara rombongan dengan angkutan truk. Harga satu bambu Rp. 6.000. Dalam satu hari Ibu Mursiyah berhasil membuat sekitar 5 buah kalo.
Alat-alat yang diperlukan untuk membuat kalo adalah gergaji. pisau, uncek untuk membuat lubang, blok atau cetakan kalo yang terbuat dari kayu nangka atau kayu maoni. Untuk membuat kalo diperlukan ketrampilan. Proses pembuatan kalo adalah pertama bambu dipotong, kemudian dibelah menjadi kecil-kecil. Selanjutnya bambu yang sudah diptong kecil-kecil diirat halus kemudian dianyam. Akan tetapi tidak semua bambu langsung bisa diirat, bambu yang keras harus direndam terlebih dahulu agar lebih lunak dan mudah untuk diirat. Selanjutnya setelah menjadi anyaman kemudian anyaman diomprong/ dipanggang untuk memudahkan pembentukan kalo. Anyaman bambu yang sudah diomprong diblok atau dicetak menjadi kalo sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Anyaman yang sudah berbentuk kalo kemudian dibuatkan wengku. Setelah diberi wengku, proses terakhir adalah jejet atau mengikat wengku dengan tali plastik khusus.Setelah diikat maka kalo sudah jadi dan siap untuk dipasarkan. Para perajin kalo di Dusun Nglingseng dalam memasarkan kalonya tidak langsung dijual sendiri akan tatapi diambil oleh pedagang.