Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Sanggar Kesenian Tradisional Cipto Roso - Kebumen, Jawa Tengah |
Sanggar Kesenian Tradisional Cipto Roso didirikan oleh para pandhemen atau pecinta seni tradisional yang didukung oleh Pemerintah Desa Karangsari Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Sanggar ini didirikan pada 12 Maret 2005.
Sejak didirikan, Sanggar Kesenian Cipto Roso berfungsi sebagai:
a. Sebagai wadah pembinaan kesenian tingkat dewasa, pelajar SMA, SMP, dan SD;
b. Untuk mengamalkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945, khususnya pasal 32 yang berbunyi “Pemeritah memajukan kebudayaan nasional.”
c. Mengarahkan kepada para pencinta dan pelajar untuk dapat menjunjung tinggi budaya Indonesia ke arah yang positif.
d. Menyiapkan kader bangsa untuk dapat menghargai budaya bangsa Indonesia yang adiluhung.
Sanggar kesenian tradisional Cipto Roso bertujuan:
1. Turut aktif meningkatkan kualitas manusia hidup seimbang di tataran masyarakat antara moralitas dan kemajuan teknologi.
2. Menciptakan manusia untuk dapat menghargai sesama serta budayanya sendiri.
Anggota sanggar kesenian tradisional Cipto Roso adalah para dewasa yaitu bapak-bapak/ ibu- ibu, pelajar di berbagai tingkatan antara lain sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah dasar (SD) yang secara sukarela mendaftarkan atas permintaan sendiri menjadi anggota dengan persyaratan yang telah ditentukan.
Sanggar kesenian tradisional Cipto Roso mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan kepada para pecinta, generasi muda, pelajar, anak- anak khususnya kesenian tradisional antara lain: jamjaneng, ebleg, jemblung, dan campursari/ karawitan.
1. Jamjaneng
Jamjaneng merupakan salah satu kesenian musik tradisional asli dari Kabupaten Kebumen. Sebagian masyarakat ada yang menyebutnya sholawat Jamjaneng dan ada pula yang menyebutnya dengan Janengan.
Nama Jamjaneng atau Janengan berasal dari
kata “Zamzani”. Ia adalah tokoh yang dianggap sebagai pencipta musik tradisional ini. Masyarakat
setempat meyakini bahwa Syeikh Zamzani yang memadukan syair-syair yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga dan musik Jawa yang diciptakan oleh Ibrahim al-Samarqandi (Brahim Samarqandi). Pada mulanya kesenian ini digunakan sebagai media syiar agama Islam.
Musik tradisi Jamjaneng merupakan perpaduan dari unsur tradisi musik Jawa dan tradisi musik Islam Timur Tengah (Arab). Oleh karena itu, musik Jamjaneng disebut juga musik tradisional “Jawa-Islam”.
2. Ebleg
Ebleg merupakan seni pertunjukan tradisional berupa tarian khusus yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Pertunjukan ini dipentaskan oleh sejumlah penari yang memainkan (menunggangi) kuda tiruan yang dibuat dari anyaman bambu atau kepang. Saat menampilkan tarian, para penari membentuk formasi tertentu layaknya pasukan berkuda.
Dalam kesenian Ebleg terkandung nilai historis, moral, dan patriotisme. Kesenian Ebleg diciptakan untuk mengabadikan sejarah perjuangan Sultan Agung Hanyakrakusuma melawan kolonial Belanda. Pada saat melawan Belanda, Sultan Agung menjadikan Panjer (nama Kabupaten Kebumen dahulu) sebagai basis militer dan lumbung pangan untuk persediaan logistik dalam upaya menyerang Belanda. Kekalahan Mataram Islam dari Belanda, salah satunya akibat kekurangan pasokan makanan karena lumbung pangan yang ada di Panjer dibakar oleh Belanda.
Nilai-nilai perjuangan Mataram Islam melawan penjajah yang terkandung dalam ebleg diharapkan bisa menjadi pengingat bagi generasi muda untuk menanamkan rasa cintanya terhadap tanah air.
3. Jemblung
Jemblung atau juga disebut Dalang Jemblung merupakan suatu seni bertutur khas Banyumas yang digunakan sebagai media untuk menyampaikan cerita pewayangan, cerita dalam bentuk tembang, dan juga Babad Menak (Serat Menak) secara lisan.
Jemblung dimainkan oleh 4-5 orang. Biasanya terdiri atas tiga/empat laki-laki dan 1 perempuan. Setiap orang memiliki tugas masing-masing, yang terdiri atas: dalang sekaligus berperan sebagai wayang (tokoh dalam cerita), pengrawit (penabuh gamelan), dan waranggana (pesinden).
Kesenian jemblung mengandalkan olah suara/vokal. Dalam pementasannya, kesenian ini tidak diiringi dengan musik. Pemain yang bertugas sebagai tokoh dalam cerita juga bertugas sebagai pengiring dengan vokal/suaranya.
Dalam melakukan pementasan Jemblung, biasanya para pemain duduk mengelilingi meja. Para pemain mengenakan pakaian daerah Banyumas lengkap, yang terdiri atas belangkon atau iket, jas tutup atau surjan, kain batik dan memakai selop.
4. Karawitan
Karawitan adalah seni suara dan gamelan yang menggunakan nada-nada yang berlaras slendro dan
pelog, diatur berirama sehingga selaras dan nikmat didengar.
-