Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaAsal Mula Mata air Dusun Lemuru - Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta
Candi 6 adalah salah satu dusun yang terletak di Desa Jatiayu, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelum dinamakan Candi 6, dusun tersebut dahulu bernama Lemuru. Di dusun ini terdapat sebuah mata air yang dinamakan mata air Lemuru. Menurut cerita , keberadaan mata air ini ada kaitannya dengan dengan Cangak Mangrang, yaitu adipati yang berasal dari Majapahit. Cangak Mangrang mempunyai abdi bernama Kyai dan Nyai Lemuru. Pada waktu Cangak Mangrang datang di Lemuru pertma kali yang dilakukan adalah menancapkan tongkatnya di bawah pohon anggur. Ternyata dari lubang bekas dari tancapan tongkat itu kemudian menjadi sebuah mata air. Mata air tersebut dinamakan mata air Lemuru. Hingga kini mata air tersebut masih ada. Penduduk sekitar menganggap mata air Lemuru merupakan tempat yang keramat, sehingga apabila ada orang yang mempunyai hajat sering membuat sesaji di mata air ini. Di samping itu secara rutin setiap tahun sekali tempat ini dipilih untuk melakukan kirim doa. Ada empat warga dusun yang biasa melalukan kirim doa di mata air Lemuru, yaitu warga Dusun Candi 6, Candi 7, Kerdon, dan Tegalsari . Adapun waktu pelaksanaan kirim doa adalah pada hari Senin Legi, sedangkan waktu yang dilarang untuk kirim doa yaitu pada bulan Suro. Dalam acara kirim doa ada tatacara tertentu yang dilakukan, yaitu masing-masing keluarga membawa sajian kenduri yang ujudnya sesuai kemampuan. Namun khusus untuk kadus biasanya sajian kendurinya memakai ingkung. Pada waktu mengucapkan ujub, kaum mengucapkan kata-kata bahwa sajian tersebut antara lain ditujukan kepada kyai dan Nyai Lemuru. Selain acara kirim doa ada kegiatan lain yaitu acara selamatan yang disebut rasulan atau bersih desa. Acara Bersih desa dilakukan setelah kirim doa. Pada perkembangannya, sejak kemerdekaan kegiatan bersih desa dilakukan secara serentak di semua dusun, dan dikoordinir oleh pemerintah desa. Waktu pelaksanaan kegiatan bersih desa di bulan Agustus yang sekaligus untuk memeriahkan ulang tahun kemerdekaan. Acara bersih desa di pusatkan di balai desa dan disertai dengan pertunjukan kesenian. Pada acara bersih desa, masing-masing dusun mengirim sepasang gunungan yang berisi sajian makanan. Sejak ada ketentuan kegiatan bersih desa dilakukan menjelang atau sesudah ulang tahun kemerdekaan maka pelaksanaan kirim doa dimasing-masing dusun lalu menyesuaikan dengan pelaksanaan bersih desa. Pesan yang terkandung dalam cerita ini adalah sebagai suatu pranata atau lembaga.