Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaMbah Kalibening - Banyumas, Jawa Tengah
Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah memiliki banyak cerita rakyat atau legenda yang hingga saat ini masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Apa lagi tokoh dalam cerita tersebut merupakan tokoh sakti dan dapat dijadikan panutan bagi masyarakat setempat. Salah satunya adalah cerita tentang Mbah Kalibening yang makamnya ada di Dukuh Kalibening, Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Kabupten Banyumas. Menurut cerita Mbah Kalibening merupakan tokoh penyebar agama Islam di Wilayah Dawuhan sebelum era Wali Songo. Kalibening merupakan sebuah nama yang diberikan kepada Syekh Maulana Rumaini. Syekh Rumaini adalah seorang saudagar atau musafir dari Timur Tengah, yaitu Persia datang ke Dawuhan sekitar tahun 1.270 sampai 1.300. Menurut informasi nama Kalibening diberikan kepada Syekh Maulana Rumaini karena telah menemukan sumber mata air yang kemudian dijadikan sebuah sumur atau kali. Bagi masyarakat Dawuhan sumur disebut juga dengan kali dan bening berarti bersih. Jadi jika digabung antara sumur dan bening menjadi Kalibening. Kisahnya sebagai berikut: Mbah Kalibening yang mempunyai nama asli Syekh Maulana Rumaini atau Syekh Romawi, dan Syekh Sayyid Abdullah Faqih. Namun lebih dikenal dengan nama Syekh Romawi. Syekh Romawi atau Mbah Kalibening datang ke Indonesia tepatnya di Kerajaan Singosari. Dari kerajaan Singosari beliau melanjutkan perjalanan menuju ke arah Barat sampai Kerajaan Majapahit. Pada waktu Kerajaan Majapahit sedang mengadakan sayembara, yang mana jika dalam sayembara tersebut menang akan mendapatkan putri raja. Akan tetapi karena religius dari Syekh Romawi atau mbah Kalibening adalah Islam dan Kerajaan Majapahit adalah Hindu, maka mbah Kalibening menolak. Karena beliau yang memenangkan sayembara tersebut maka sebagai sebuah penghargaan, beliau diberi hadiah berupa tombak pusaka. Setelah mengikuti sayembara, Syekh Maulana Rumaini melanjutkan perjalanan menuju ke arah Barat sembari menyebarkan agama Islam. Kemudian tibalah di suatu desa di perbukitan, di mana pada waktu itu sedang musim kemarau, jadi perbukitan tersebut dalam keadaan gersang. Karena pada waktu itu memasuki waktu sholat asar maka beliau mau berwudlu, namun beliau tidak menemukan air. Kemudian beliau bertanya pada Mbah Glagah Amba yang sudah bermukim di perbukitan tersebut. Dijelaskan bahwa di dimusim kemarau di perbukitan tidak ada air. Setelah terjadi perbincangan, beliau naik lagi ke atas bukit. Kemudian beliau menemukan sebuah batu, dengan do’a dan penuh keyakinan beliau menancapkan tombak ke sebuah batu tersebut. Akhirnya dari batu tersebut keluarlah sumber mata air yang sangat deras, dan hingga kini air yang keluar sangat jernih dan deras. Bahkan di musim kemarau panjang pun air tetap keluar. Mata air tersebut oleh Mbah Kalibening dibuat menjadi sumur untuk menampung air yang terus mengalir, yaitu dengan cara memahat batu yang keluar airnya. Namun belum sampai selesai Mbah Kalibening wafat. 700 tahun kemudian pemahatan diteruskan oleh Eyang Ngalibesari. Sumur tersebut diberi nama Sumur Pasucen yang berarti munyucikan. Hingga kini sumur tersebut dipakai sebagai tempat untuk menyucikan/jamasan pusaka pusaka yang tersimpan di Museum Kalibening. Bahkan sebagian masyarakat percaya bahwa air dari sumurtersebut dapat di pakai untuk pengobatan.