Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaEbek - Banyumas, Jawa Tengah
Kesenian Ebeg merupakan salah satu kesenian tradisional kerakyatan yang ada di Banyumas yang saat ini masih mendapat perhatian besar dari masyarakat Banyumas untuk menyaksikan. Nama Ebeg ini dikenal di Banyumas, Jawa Tengah, sedangkan di daerah lain memiliki sebutan yang berbeda-beda, ada yang menyebut dengan sebutan “Kuda Lumping”, “Jathilan”, jaran dhor, dan barongan. Hampir di setiap desa di Banyumas terdapat kesenian Ebeg. Salah satu kesenian Ebeg yang ada di Kabupaten Banyumas adalah Kesenain Ebeg Wahyu Lestari Budoyo yang berada di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Kesenian Ebeg sebagai seni budaya yang berasal dari Jawa Banyumasan. Di dalamnya tidak ada pengaruh dari budaya lain, baik agama Hindu dan Budha sebagai agama yang pertama masuk. Dalam pertunjukan Ebeg tidak menceritakan tokoh tertentu atau agama tertentu, namun lagu-lagunya justru banyak menceritakan kehidupan masyarakat tradisonal, terkadang pantun dan wejangan. Begitu juga dalam pertunjukan Ebeg Wahyu Lestari Budoyo yang menceritakan tentang kehidupan dari sejak lahir, bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat, kemudian terjadi persaingan. Persaingan yang dimaksud adalah persaingan antara hal yang baik dan yang buruk. Sehingga saat pertunjukan dari awal tarian biasa, kemudian terjadi perdebatan, akhirnya sampai wuru (kerasukan).Kesenian Ebeg menjadi kesenian yang mempunyai ciri khas Kabupaten Banyumas. Bentuk penyajian kesenian ini ditampilkan dalam bentuk kelompok, namun tidak ada pathokann terkait dengan jumlah, biasanya sekitar 35 orang setiap pertunjukan dengan peran sebagai pemusik, penari, pawang, dan tim lainnya. Ragam gerak yang dilakukan oleh penari Grup Kesenian Ebeg Wahyu Lestari Budoyo adalah gerak-gerak kreasi gaya Banyumasan. Ciri gaya Banyumasan adalah geraknya yang tegas dan patah-patah dan lebih menonjolkan gerak bahu dan geolan pinggul. Selain itu, gerak gaya banyumasan juga dapat dilihat dari posisi jari telunjuk yang ditekuk ke depan. Grup Kesenian Ebeg Wahyu Lestari Budoyo memiliki keunikan tersendiri dari grup kesenian ebeg yang lainnya.Bentuk seni pertunjukan Ebeg diiringi oleh gamelan Jawa pelog dan slendro komplit. Dalam pertunjukan Ebeg wahyu Lestari Budaya terdiri dari beberapa adegan, yaitu: 1. Pembukaan, diawali dengan gending Eling-eling, Ricik-ricik, dan Sekar gadung 2. 10 penari keluar, setelah menari selama 3 lagu, kemudian masuk kebelakang panggung untuk beristirahat 3. Pertunjukan dilanjutkan dengan keluarnya Barong dan anoman dengan adegan pertengkaran 4. Penari keluar lagi, tanpa menggunakan kuda menari selama 1 atau 2 lagu hiburan 5. Istirahat 6. Penari keluar lagi hingga selesai. Rias dan Kostum yang digunakan adaiah alah rias gagah, sedangkan kostum yang digunakan meliputi celana, kain jarik, stagen, sabuk, ilat-ilatan, sampur, beskap, kalung, kaos kaki, ikat kepala, sumping, dan gongseng. Ada beberapa unsure pendukung dalam pertunjukan Ebeg, antara lain property, penari/pemain, penimbul, tempat pertunjukan, pola lantai, lama pertunjukan (waktu), gending /pengiring, tata busana dan tata rias, tata suara dan lampu, sesaji, indhang, dan gerak tari, serta kekompakan para penari/pemain. Dari berbagai unsure tersebut akan menarik simpati penonton untuk menyaksiakan suatu kelompok tari Ebeg. Properti kesenian Ebeg adalah salah satu jenis kesenian yang menggunakan tari sebagai unsur utama, dan propertinya berupa kuda kepang. Kuda kepang adalah kuda rekaan yang terbuat dari kepang (anyaman bambu), , topeng anoman, topeng ganongan, Topeng barongan buta, topeng dari kayu waru lebih awet, dan cambuk. Property tersebut menjadikan ciri sebagai kesenian Ebeg. Sesaji yang diperlukan dalam kesenian pertunjukan Ebeg, antara lain: bunga mawar, kanthil, kelapa hijau, pisang ambon, pisang raja, kemenyan, telor ayam kampong mentah, minyak duyung, ares pohon pisang (ang digunakan pada saat wuru (kerasukan), dedhag, suket teki, daun papaya, ting, lampu, kalongan,ayam hidup, bodin(ubi kayu). Kesenian Ebeg Banyumasan menjadi salah dari kekayaan budaya Indonesia yang menunjukkan keindahan, kekuatan dan kedalaman tradisi local . Pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung nilai-nilai spiritual dan social yang penting bagi masyarakat Banyumas, sehingga perlu dijaga kelestariannya.