Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTRADISI ISTIGHOSAH LAUT - Surabaya, Jawa Timur
Dusun Nambangan, Kelurahan Kedung Cowek, Surabaya pada awalnya tidak berada di posisi yang sekarang ini. Dusun Nambangan dahuli berada tepat di pinggir pantai tempat berdirinya Jembatan Suramadu saat ini. Meskipun saat ini termasuk wilayah Kedung Cowek, sebelumya Nambangan adalah wilayah tersendiri. Kemudian saat penguasaan Surabaya oleh Belanda, dibangunlah sebuah benteng pertahanan di wilayah tersebut. Dengan adanya benteng tersebut, Kedung Cowek bergeser ke tempat yang sekarang begitu pula dengan Nambangan sekitar tahun 1901. Masyarakat Kedung Cowek banyak yang berprofesi sebagai nelayan yang berangkat melaut pada malah hari dan pulang pada pagi hari. Ada berbagai macam ikan hasil tangkapan para nelayan seperti ikan layar, kuningan, udang laut, cumi-cumi, dan mimi. Mimi atau belangkas adalah hewan langka yang hidup di dasar laut berpasir dan berlumpur. Mereka berpasangan jantan dan betina dan memiliki bentuk yang mirip dengan ikan pari namun lebih kecil dan memiliki cangkang yang keras seperti kepiting. Hewan ini memiliki kaki dan ekor lurus dan kaku. Beberapa masyarakat mempercayai akan memiliki pasangan yang langgeng seperti mimi lan mintuno. Hasil tangkapan laut kemudian dijual dalam bentuk ikan segar, ikan asap, atau ada yang dikeringkan untuk dibuat ikan asin. Hampir setiap halaman rumah penduduk ada ikan atau udang yang dijemur. Pada waktu itu, tidak hanya orang Kedung Cowek saja yang berprofesi sebagai nelayan namun juga berasal dari wilayah seperti Gresik. Dikisahkan, ada seorang nelayan yang berasal dari Gresik yang melaut di Kedung Cowek. Karena berasal dari Gresik, setelah selesai melaut orang ini tidak langsung membawa pulang hasil tangkapannya ke Gresik namun beristirahat dahulu di pinggiiran Kedung Cowek. Setiap hari nelayan tersebut pulang pergi menuju Kedung Cowek-Gresik. Sehingga suatu ketika nelayan tersebut diberi tempat atau sebidang tanah di Kedung Cowek oleh masyarakat sekitar karen merasa iba. Tanah tersebut dibangun sebuah gubug sebagai tempat singgah dan menampung hasil lautnya. Masyarakat menyebut daerah tersebut dengan nama nambangan yang berarti penyeberangan. Nelayan tersebut akhirnya beranak pinak menjadi keluarga besar di Desa Nambangan sehingga tidak heran jika logat bicara orang di daerah itu terpengaruh atau sebagian sama dengan masyarakat Gresik. Salah satu kebiasaan masyarakat nelayan asli Desa Nambangan adalah sedekah bumi dan melarung sesajen ke laut. Kemudian lama-kelamaan tradisimelarung sesajen tersebut diganti dengan istighotsah di tengah laut. Istighotsah dilakukan ditengah laut selepas isya oleh kaum laki-laki dengan mengenakan baju muslim dan sarung dengan menaiki kapal nelayan. Acara ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Gusti Allah yang telah memberi mereka rejeki di tengah laut.