Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTOPENG MULUDAN - Surabaya, Jawa Timur
Topeng muludan adalah topeng anak-anak yang terbuat dari kertas daur ulang serta kertas bufalo untuk melapisi permukaan kertas daur ulang tersebut. Tahap pertama untuk membuat topeng muludan adalah beberapa lembar kertas daur ulang direkatkan dengan lem. Kemudian lembaran-lembaran kertas tersebut dicetak dengan cetakan dari batu yang sudah dibentuk serupa kepala aneka jenis binatang, lalu dijemur di bawah sinar matahari. Jika cuaca panas maka dalam setengah hari topeng dapat kering dengan baik. Topeng muludan mulai eksis pada tahun 60-an digunakan anak-anak untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi. Maulid dalam logat Jawa khususnya di Surabaya biasa disebut muludan. Maka dari itulah makan topeng ini disebut dengan Topeng Muludan karena dipakai pada saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Seiring perkembangan jaman, topeng ini mengalami pergeseran bentuk dan fungsinya. Jika zaman dahulu topeng muludan hanya megadopsi bentuk-bentuk binatang, saat ini bentuk topeng semakin bervariasi mengikuti perkembangan. Misalnya sedang musim robot maka topeng muludan banyak yang berbentuk robot. Biasanya tokoh-tokoh atau bentuk mengikuti perkembangan psikologis anak-anak yang banyak mengambil dari tokoh film di televisi yang sedang tren saat ini. Alasannya adalah agar anak-anak tetap loyal membeli dan memainkan topeng muludan. Daerah Girilaya dan Dukuh Kupang, Surabaya, Jawa Timur adalah sentra pengrajin topeng muludan sehingga banyak orang menyebut daerah tersebut sebagai Kampung Topeng. Sedangkan tempat untuk menjual dan menyebarluaskan topeng ini berada di Pasar Wonokromo. Saat ini penjual topeng muludan tinggal beberapa orang saja, meskipun pada dahulu banyak sekali pedagang topeng yang membuka lapak untuk berjualan topeng. Dikarenakan omset penjualan yang kian menurun, makan para pedagang memutuskan untuk memperluas jangkauan pemasarannya dengan menjajakan topeng sampai ke pelosok kampung-kampung di Surabaya dan sekitarnya. Pada saat mereka ke luar kota, para pedagang ini menyewa truk secara rombongan untuk berdagang ke luar kota. Salah satu program yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya adalah dengan mengadakan workshop pembuatan topeng muludan. Hal ini bertujuan untuk melestarikan keberadaan topeng muludan yang mulai berkurang dan tergeser oleh mainan-mainan moderen buatan pabrik.