Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKekadangan Wringin Seto - Blora, Jawa Tengah
Ajaran Wringin Seto pertama kali disebarkan oleh Eyang Amiseno dan Amiluhur. Kedua eyang itu adalah saudara kembar yang hidup dalam rentang tahun 1818-1915. Keduanya merupakan perintis aliran kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Wringin Seto yang didirikan pada bula Sura tahun 1895 di Margoyudan, Solo. Setelah mengalami perjalanan yang panjang, kekadangan Wringin Seto hingga hingga tahun 2006 dipimpin oleh Koesoemo Soerodiningrat Soewardi, dan kemudian ada tokoh lagi yakni Agus Soejono Budi. Ajaran Wringin Seto mengajarkan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa bahwa semua makhluk yang hidup di jagad raya ini ada yang memberi hidup yaitu Yang Maha Hidup, yang memberi hidup memliki sifat-sifat wewarah nawa, sapta ing jiwaraga atau kuasaNya atas WenangNya Tuhan Yang Maha Esa. Berbagai tatacara ibadah antara lain pada bulan Sura atau istilahnya mapak, laku prihatin selama tiga hari, puasa, ngebleng dan pati geni yang dilakukan bersama di sanggar. Tanggaal 15 bulan Jawa diadalan slametan Suran, merupakan doa keselamatan untuk seluruh umat dari berbagai agama. Pada setiap malam jumat Kliwon dan Selasa Kliwon diadakan sarasehan di sanggar. Wringin Seto memiliki padepokan yang terletak di Bukit Sayuran, Desa Soko, Kecamatan Jepon, Blora yang didirikan tahun 1999. Para pengikut ajaran Wringin Seto menyebut padepokan tersebut sebagai padepokan wening atau hening.

-