Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUapacara Adat Ziarah Menang Sri Aji Jayabaya - Kediri, Jawa Timur
Sejarah: Dalam Kisah Jawa, Jayabaya (dibaca, Joyoboyo) adalah titisan Dewa Wisnu, penguasa Negara Widarba yang beribukota di Mamenang. Ayah Joyoboyo bernama Gendrayan. Petilasan Sri Aji Joyoboyo adalah situs yang dipercaya sebagai tempat muksa (hilang lenyap bersama jasadnya) Joyoboyo, dan konon Jiwa Sang Raja masih berada di tempat itu. Bangunan di tengah situs itu dipercaya sebagai Pamuksan Sri Aji Joyoboyo yang berbagi tiga tempat yang mewakili tiga fase muksa Joyoboyo, yaitu loka Muksa, Loka Busana dan Loka Makuto. Sebelumnya Situs Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ini hanya berbentuk sebuah gundukan tanah. Sampai suatu saat, di tahun 1860, seorang penduduk Desa Menang bernama Warsodikromo bermimpi bahwa di area gundukan tanah itu pernah hidup seorang Raja Kediri yang bernama Joyoboyo Sri Aji Joyoboyo terkenal dengan kitab Jongko Joyoboyo yang berisi ramalan-ramalan kejadian di pulau Jawa sejak jaman Aji Saka sampai datangnya hari kiamat. Naskah yang didalamnya berisi Ramalan Joyoboyo diantaranya serat Jayabaya Musarar dan Serat Paranitiwakya. Jayabaya turun tahta pada usia tua dan dipercaya moksa di desa Menang, dimana Pamuksan Sri Aji Joyoboyo kini berada Deskripsi: Upacara Adat Ziarah menang Prabhu Sri Aji Jayabaya diselenggarakan oleh masyarakat Desa Menang, Kecamatan Pagu pada hari pasaran Jumat Kliwon, Bulan Suro/Muharam pada setiap tahunnya. Upacara adat ini pada dasarnya dilaksanakan untuk memohon perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan Yang maha Esa, sekaligus mengalap berkah dari petilasan Raja kediri yang terkenal akan ramalannya dalam serat Jangka Jayabaya.