Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Manten Tebu (Buka Giling) - Kediri, Jawa Timur
Sejarah: Mantenan tebu di Meritjan, Mojoroto Kediri adalah salah satu tradisi yang melanjutkan adat budaya yang pernah ada. Menurut sejarahnya, mantenan ini sudah ada sejak tahun 1975 silam. Bahkan tradisi ini juga sempat berhenti. Beruntung berkat kesadaran warga setempat akan pentingnya acara ini, tahun 2007 lalu mantenan tebu kembali digelar meski dikemas sedikit berbeda. Dari keterangan warga setempat bahwa mantenan tebu bermula dari kebiasaan raden Sardono yang sangat mencintai tumbuh-tumbuhan. Salah satunya adalah tebu. Dalam hidupnya Raden Sardono tek pernah berhenti untuk mensyukuri hasil bumi ini. Bentuk syukur itu bermacam-macam wujudnya. Tergantung gimana cara menyikapi dan melestarikannya. Hingga suatu saat Raden Sardono berpesan kepada sang Istri Dewi Sri, sebagai lambang kesuburan, dirinya harus terus melestarikan segala jenis tumbuhan maupun tanaman. Karena dengan merawat dan menjaga dengan baik, niscaya Sang Kuasa memberikan hasil bumi yang melimpah ruah. Karena itu untuk menghargai jasa Raden Sardono dan Dewi Sri, masyarakat petani tebu di Mojoroto Kediri menggelar upacara adat mantenan tebu. Disamping itu inti daripada acara ini adalah untuk meminta berkah kepada Sang Kuasa, agar dalam proses memasuki musim giling tebu di PG Meritjan dapat berjalan lancar, hasil panen senantiasa melimpah, dan semua orang yang terlibat selamat. Beberapa harapan inilah yang dijadikan alasan digelarnya mantenan tebu, yang kiranya dapat menjadi bukti asmara di balik kisah mantenan tebu. Rasa syukur dan harapan warga akan tebu yang dihasilkan dari lahan garapan, melebur menjadi panjatan hati pada Sang Kuasa. Deskripsi: Di Pabrik Gula Meritjan , Mojoroto, Kediri. sebagai pertanda musim giling tebu digelar tradisi manten tebu. Prosesi mantenan tebu ini diadakan oleh masyarakat etempat dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) dan Jajaran Pengurus Pabrik Meritjan. Setelah para petani tebu menuai hasil panen melimpah. Karenanya untuk mengiring rasa syukur pada Sang Kuasa digelar mantenan tebu. Dengan dipimpin tokoh adat setempat, ritual mantenan dimulai. Lengkap diiringi beberapa orang berpakaian ala Jawa dengan mengenakan beskap. Mereka mengawali proesi ini dengan melakukan kirab dahulu. Di dalam kirab yang menempuh jarak 2 kilometer, di baris paling depan beberapa orang berpakaian adat Jawa itu membawa tandu yang dinaiki sepasang pengantin tebu. Paangan pengantin ini hanyalah boneka yang terbuat dari tebu. Layaknya pasangan manusia, warga begitu kreatif dalam menciptakannya. Ada yang lelaki dan ada pula yang wanita. Kirab berjalan perlahan menuju Pabrik Gula Meritjan untuk dilanjutkan masuk ke tempat penggilingan tebu. Sampai di pabrik rombongan pengantin disambut meriah oleh jaranan Kediri. Sementara itu beberapa pejabat Muspida Kediri dan adminitratur PG Meritjan bersiap menerima seserahan pasangan mantenan tebu, yang dibawa oleh sesepuh desa setempat. Pasangan manten tebu pun telah diserahkan. Untuk kemudian dibawa beramai-ramai menuju tempat penggilingan. Ada 13 batang tebu yang dibawa oleh para pengiring mantenan sebagai simbol rendeman kali ini. Selain itu ada pula beberapa orang yang membawa kembang mayang, dan janur kuning. setelah pasangan mantenan tebu, 13 batang tebu, kembang mayang dan janur kuning dibawa masuk ke ruang penggilingan tebu. Tak berselang lama, sepasang boneka mantenan tebu dimasukkan ke dalam mesin penggilingan. Menyusul kemudian 13 batang tebu, kembang mayang dan janur kuning. Semua digilas habis hingga berurai oleh mesin penggilingan. Banyak warga yang berebut meraih sisa-sisa penggilingan yang konon dipercaya membawa berkah. Sisa penggilingan mantenan tebu itu dapat membawa berkah pada hasil panen kedepan.