Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kesenian Tiban - Kediri, Jawa Timur |
Sejarah:
Alkisah dahulu kala di Kerajaan Kediri, berkuasa seorang raja yang otoriter, Sang Raja ingin diperdewakan. Demikian gambaran raja Kediri yang menyebutnya Kertajaya. Sehingga rakyat menurut perintahnya bukan karena patuh melainkan karena takut. Wilayah kerajaan Kediri termasuk Kademangan Ngimbang (sekarang Ngadiluwih). Mempunyai 4 kademangan yaitu: Kademangan Ngimbang, Megalamat, Jimbun dan Ceker. Meskipun diperintah oleh Sang Raja yang otoriter namun keadaan masyarakat makmusr, segala masalah diselesaikan secara gotong royong. Masyarakat lebih dahulu panen membagi kepada para tetangga, namun sayang kepribadian yang demikian tidak dapat perhatian oleh rajanya, bahkan Brahmanapun diminta untuk menyembah dan mendewakan dia.
Kemakmuran itu tiba-tiba sirna oleh datangnya kemarau yang sangat panjang. Kemarau yang berlangsung panjang tersebut diyakini merupakan kutukan kepada manusia atas ketidakpercayaan dan ketidaktaqwaan terhadap kekuaran yang lebih tinggi. Untuk itu para demang bermusyawarah dengan para Pinisepuh, beberapa usul, saran dan pendapat, untuk menebus kutukan tersebut. Rakyat Ngimbang dengan sisa hartanya sedikit diberikan untuk digunakan sebagai syarat pelaksanaan Upacara Adat, bagi yang masih mempunyai padi dimohon memberikan seikat, dan bagi yang memiliki lembu membawa pecutnya sebagai lambang kekayaannya.
Setelah semua siap kemudian rakyat berkomunikasi dengan kekuatan supernatural. Memohon pengampunan kepada kekuatan yang lebih tinggi. Selanjutnya sebagai ritualnya masyarakat menyiksa diri dan berjemur dipanas terik. Sarana ini dirasa belum dapat berkomunikasi dengan kekuatan super natural, maka penyiksaan diri tersebut lebih dipertajam dengan menggunakanpecut yang terbuat dari Sodo Aren (lidi dari tumbuhan berbuah kolang-kaling/pohonnya menghasilkan ijuk). Prosesi ritualnya diantara para peserta upacara tradisi ini saling mencambuk secara bergiliran. Sudah barang tentu dalam permainan ini banyak cucuran darah, karena kekhusukannya maka segala yang diderita tidak terasa. Dalam suasana religi inilah kemudian turun hujan yang tidak pada musimnya. Hujan yang semacam inilah disebut Hujan Tiban (hujan secara tiba-tiba). Kegembiraan rakyat Ngimbang beserta Pinisepuh tidak dapat digambarkan, bersyukurlah mereka atas Rahmat-Nya. Demikian kejanian itu yang kemudian upacara tersebut dinamakan Tiban, dan diteruskan oleh masyarakat setempat secara turun temurun, bila terjadi kemarau panjang.
Deskripsi:
Tiban merupakan tradisi sekaligus kesenian yang berkembang di wilayah selatan Kabupaten kediri. Tradisi ini tumbuh di wilayah Kecamatan Kras dan Kecamatan Ngadiluwih. Bentuk tradisi ini adalah saling mencambuk menggunakan lidi enau atau aren dengan acara selamatan sebagai pendahuluannya. Tradisi ini dilakukan pada masa kemarau panjang melanda wilayah ini. Dipercaya darah yang menetes ke bumi akibat cambukan lidi aren atau enau ini akan mengundang hujan turun ke bumi.