Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kerajinan Gerabah Seni - Pacitan, Jawa Timur |
Sejarah:
Sentra Industri Gerabah di Pacitan tepatnya berada di Desa Purwoasri Kecamatan Kebonagung. dengan jumlah unit usaha 84 orang dan menyerap tenaga kerja sebanyak 144 orang. Produksi pertahun 72.200 buah.
Sebagian besar masyarakat pengrajin sudah menjadi pengrajin gerabah lebih dari 15 tahun dengan bekerja antara 6-7 jam/hari. Sebagian besar masyarakat pengrajin tidak memiliki tenaga kerja. Sejumlah 63,2% masyarakat pengrajin gerabah memproduksi gerabah tradisional dan 36,8% memproduksi gerabah seni dan tradisional. Seluruh masyarakat pengrajin melakukan pembakaran gerabah secara mandiri dan dilakukan setiap satu bulan sekali. Dalam satu kali pembakaran gerabah membutuhkan kayu bakar 11-20 ikat kayu. Sebagian besar masyarakat pengrajin menjual gerabah kepada pengepul.
Desa ini memang sudah sejak lama terkenal dengan kerajinan gerabahnya. Tidak kurang dari 30 orang perajin setiap hari memproduksi gerabah, terutama jenis peralatan dapur dan pot bunga.
Sejak tahun 1959 Desa Purwoasri sudah menjadi sentra kerajinan gerabah. Kerajinan ini sudah menjadi produksi massal bagi hampir warga dusun. Kebanyakan pekerjanya adalah wanita atau ibu-ibu. Baru tahun 2009 dibentuk kelompok perajin, namanya Maju Asri. Saat ini anggota kelompok mencapai 44 orang perajin semuanya adalah kaum ibu-ibu.
Deskripsi:
Sentra Industri Gerabah di Pacitan berada di Desa Purwoasri Kecamatan Kebonagung. jumlah unit usaha 84 orang , menyerap tenaga kerja 144 orang. Produksi pertahun 72.200 buah. Disamping gerabah seni, juga memproduksi gerabah tradisional seperti uleg-uleg, cobek, kendi, tungku tanah liat dan kwali.
Desa ini berada di km 8 arah selatan Kota Pacitan menuju Pantai Wawaran. Tidak kurang dari 30 orang perajin setiap hari memproduksi gerabah, terutama jenis peralatan dapur dan pot bunga. Selain memproduksi gerabah untuk kebutuhan sehari-hari, juga diproduksi gerabah seni. Gerabah seni masih tergolong unggulan baru. Namun mampu menggerakkan warga satu kampung untuk berproduksi. .
Menurut Rumini, 50 tahun, Kepala Produksi Gerabah Seni Maju Asri, yang paling diminati pasar di antaranya guci-guci bermotif batik dan wayang, vas bunga, tempat payung, asbak dan berbagai souvenir. Pasar gerabah seni yang sudah tergarap dengan baik adalah Surabaya, Malang, Ponorogo dan Jakarta.
Bahan baku gerabah di Kabupaten Pacitan cukup melimpah dan kualitas sangat baik, membuat produk-produk gerabah dari Pacitan tergolong murah. Harga paling murah Rp 1500 berupa asbak atau souvenir souvenir pernikahan. Paling mahal Rp 150 ribu berupa guci-guci bermotif wayang atau batik.
Menjelang Maulud Nabi Muhammad SAW, permintaan gerabah meningkat tajam. Pesanan tidak saja dari Pacitan, namun juga Ponorogo, Trenggalek, Wonogiri dan Madiun. Cobek merupakan salah satu produk yang paling banyak dipesan.
Proses pembuatan gerabah seni tidak jauh berbeda dengan gerabah biasa. Mula-mula tanah digiling dua kali dengan mesin. Tanah yang telah digiling lalu dibentuk gerabah sesuai dengan yang dikehendaki. Ada yang dibentuk guci, pot, maupun jambangan. Yang membedakan dengan gerabah biasa adalah bentuknya yang telah disesuaikan dengan tren pasar, dan badan gerabah diberi pernik hiasan berbagai motif. Setelah itu dikeringkan di bawah terik matahari selama 2 s.d 4 jam. Lalu diletakkan di ruangan sampai kering, untuk menghindari keretakan pada proses pembakaran. Setelah kering, dilakukan proses pembakaran selama 4 jam. Sentuhan akhir produk gerabah tradisional, biasanya langsung dijual. Gerabah modern, yang dibuat dengan sentuhan seni, setelah dibakar masih harus melalui proses finishing atau penyempurnaan. Sentuhan akhir inilah yang sangat menentukan nilai jual gerabah. Tahap penyempurnaan yang dimaksudkan adalah proses pewarnaan dengan menggunakan cat yang memerlukan ketrampilan khusus.
Saat ini di Desa Purwoasri, dari 30 orang perajin hanya 4 orang yang aktif menekuni gerabah seni. seorang perajin gerabah seni, setiap tiga hari bisa menghasilkan rata-rata 10 guci/pot, 10 set (dudukan dan pot/3 hari). Harga jual guci Rp 10 - Rp 15 ribu/guci kondisi mentah (siap bakar). Sedangkan pot Rp 3.500 - Rp 5.000/set. Bila dibandingkan dengan gerabah biasa hasilnya jauh berbeda. Dulu saat masih menekuni gerabah biasa dalam satu bulan perajin mendapat Rp 300 ribu sudah bagus. Tapi sejak menekuni gerabah seni minimal 1 bulan dapat Rp 500 – 700 ribu. Pasar utama produk gerabah seni Desa Purwoasri adalah Jogjakarta, dan sebagian dijual di wilayah sendiri, Ponorogo dan Madiun. Kendalanya kurangnya tenaga yang mau dan mampu memroduksi gerabah seni serta mahalnya harga cat. Akhir-akhir ini perajin gerabah seni proses produksinya agak terganggu, lantaran dampak cuaca ekstrem selama dua bulan terakhir yang menyebabkan kuantitas dan kualitas produksi turun drastis.