Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Karya Budaya Batik Lorok - Pacitan, Jawa Timur |
Sejarah:
Pacitan merupakan daerah pantai dengan sedikit areal sawah, sehingga banyak warga yang mata pencahariannya bukan petani. Para wanita lebih banyak mengisi hari dan waktu luangnya dengan membatik. Pacitan tekenal akan karya-karya batiknya berkat kakak beradik Coenraad yang sekitar seabad yang lalu menjalankan usaha batik disana. Pengaruh gaya Solo pada karya-karya batik Pacitan sangatlah terlihat. Namun berkembang pula gaya Pacitan sendiri, yang ditandai motif-motif klasik pedalaman dengan warna-warna yang lebih pekat dari soga.
Keindahan alam telah menginspirasi ragam hias dan motif Batik Pacitan, yang sarat dengan simbol-simbol hayati. Motif khas Pacitan berupa buah pace atau mengkudu dan karang laut. Batik klasik buatan Pacitan kini terancam punah karena para pembatiknya sudah memasuki usia renta dan regenerasi masih belum menyamai hasilnya.
Sentra batik tulis asli Pacitan berada di Desa Lorok, Wiyoro Kecamatan Ngadirojo, dan wilayah Arjowinangun kota Pacitan. Batik Pacitan, selain terkenal dengan motif pace, ada pula yang disebut dengan batik Lorok, penamaan batik ini disesuaikan dengan daerah pembuatnya yaitu Desa Lorok. Pengembangan motif dan variasi batikan terus dilakukan untuk menambah keanekaragam.
Motif Pace yang menjadi ciri khas Batik Pacitan ditampilkan dengan memadukan motif ukel dan bunga teratai. Dasar blok dengan motif batuan koral mengisi kekosongan ruang di sela-sela motif utama hal ini untuk menampilkan kesan Pacitan yang banyak terdapat batu-batuan.
Batik Lorok, dibedakan menjadi beberapa era yaitu tahun 1960 sampai tahun 2010. Batik Lorok Pacitan di era tahun 1960-an sudah terkenal akan kehalusan batiknya. Ceceknya yang kecil dan rumit menandakan sangat hati-hati dalam pembuatannya. Motifnya mengarah ke jenis batik petani yaitu berupa motif flora dan fauna yang ada di sekitar daerah tersebut. Gambar masih sederhana karena para pendesain masih belum begitu mahir dalam menggambar. Pewarnaan batik ini dipengaruhi oleh batik Jogja dan Solo yaitu warna biru (nila) dan coklat (soga). Batik- batik ini semakin surut di era tahun 1980, disebabkan banyaknya batik printing yang masuk ke daerah Pacitan. Di tahun 1960 batik Lorok dipakai oleh para wanita untuk kain panjang.
Batik Lorok Pacitan di era tahun 1980-an sedikit mengalami perubahan, perubahan yang menonjol adalah fungsi batik digunakan untuk bahan baju pria dan wanita. Motif dan warna dibuat seperti motif-motif tekstil yang ada di pasaran. Detail pada batik belum diperhatikan karena permintaan pasar menginginkan batik yang berharga murah dan cepat pembuatannya. Pemerintah pada saat itu juga berperan dalam melatih dan mengembangkan batik Lorok, mulai dari pelatihan pewarnaan sampai pada kegiatan pameran.
Batik Lorok Pacitan di era tahun 1990-an hampir sama dengan tahun 1980-an. Motifnya sederhana, pembuatan relatif cepat, belum seberapa memperhatikan kualitas batikan.Variasi motif sudah mulai berkembang disebabkan pengaruh dari batik-batik lain daerah.
Batik Lorok Pacitan di era 2000-an mulai menampakkan eksistensinya, pengrajin muda mulai bermunculan. Batik-batik yang bernuansa alami dengan detail yang halus sudah mulai bermunculan. Pembatik dan pendesain batik berusaha keras untuk menyamakan mutu dan kualitas batik Lorok dengan batik dari daerah lain.
Batik Lorok Pacitan di era tahun 2010 sudah mulai menampakkan keindahan. Ada dua jenis batik yang dibuat yaitu batik pewarna alam dan batik klasik modern.
Seorang pengusaha batik lulusan universitas seni (Budi Raharjo) telah ikut memperkaya motif-motif batik Pacitan, setiap bulan ia memproduksi desain motif batik yang ia ciptakan, termasuk motif-motif pace .
Deskripsi:
Batik tulis merupakan seni budaya peninggalan dari nenek moyang masyarakat Pacitan yang sudah seabad yang lalu yaitu di Lorok dan Pacitan. Ini dapat dilihat dari beberapa produk klasik yang masih ada seperti motif parang, sido luhur sidomulyo, rujak sente serta sejenis garis dan datar, dipengaruhi oleh batik klasik yogyakarta dan solo.
Saat ini industri kerajinan batik tulis berkembang pesat di sentra industri di Desa Arjowinangun dan Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan serta Desa Cokrokembang, Desa Wonodadi Kulon, Desa Bogoharjo,Desa Tanjungpuro, Desa Ngadirojo dan sekitarnya di Kecamatan Ngadirojo.
Salah satu daerah penghasil batik terbesar di Pacitan adalah Ds Lorok Kecamatan Ngadirojo, Pacitan terdiri sekitar 134 pengusaha batik baik kecil maupun besar. Sehingga batik yang terkenal dari Pacitan disebut sebagai batik lorok. Selain batik lorok, Industri Kerajinan Batik Tulis Tengah Sawah di Desa Wiyoro Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan, merupakan satu unggulan dari sekian banyak industri kerajinan batik tulis yang ada di Kabupaten Pacitan. Dan sekarang sudah mulai bermunculan pengusaha batik dengan cirri khas masing – masing. Antara lain batik Puri. Desain ini adalah desain awal batik puri yang dipengaruhi oleh kondisi alam lingkungan Misalnya motif bintang laut, motif bunga – bunga dan tanaman maupun motif – motif yang lain. Tahun 2011 Batik Puri didampingi oleh tim dari LPPM UNS menonjolkan batik dengan motif wayang beber . Wayang beber adalah wayang khas Pacitan yang sudah berkembang sejak ratusan tahun yang silam dan saat ini mulai dilestarikan kembali. Wayang beber yang eksotik dan kaya warna dituangkan dalam motif – motif indah di kain batik.
Batik klasik modern dibuat seperti layaknya batik Lorok tempo dulu, yaitu dengan cara pewarnaan menggunakan wedel (nilo) lalu dilorod, dibatik lagi, disoga lalu dilorod lagi. Sentuhan modernnya berupa coletan warna merah (rapid) dan pemberian warna kuning (sol) pada bagian obyek tertentu. Desain batik juga dibuat lebih kontemporer mengikuti perkembangan jaman, namun tidak meninggalkan ciri khas batik lorok yang berupa motif flora dan fauna yang berada di lingkungan daerah Lorok Pacitan.
Batik motif Peksi Gisik Lorok dengan latar batu-batu koral, menggambarkan burung Sikatan yang biasa hidup di pinggiran sungai (gisik) untuk melengkapi motif batik khas Pacitan. Bagian daun dan buahnya diselipkan buah pace. Proses pewarnaan batik dengan menggunakan proses klasik. Batik ini menggunakan pewarna alami dengan pencelupan sekitar 25 kali pencelupan. Pewarna alami dibuat dari kulit mahoni.
Batik Pacitan memiliki keunggulan kompetitif dari sisi warna, karena menggunakan bahan alami dari akar-akaran dan kulit kayu sehingga tampilan batiknya terkesan lembut. Batik ini selain awet, mengandung anti oksidan serta ramah lingkungan. Motif Pace tahun 2005 telah mengukir sejarah melalui Musium Rekor Indonesia (MURI) sebagai batik terpanjang yaitu 200 m, demikian pola pewarnaan alam menjadi lambang dan karateristik alam Pacitan, sehingga pada awal tahun 2011 Batik Tulis Pacitan sebagai salah satu produk sandang lokal dengan dengan skala nasional dikukuhkan dengan produk unggulan daerah.
Peran pemerintah untuk mematenkan motif-motif Batik Pacitan merupakan salah satu upaya untuk menghindari klaim dari pihak-pihak lain yang akan mengambil keuntungan. Dan juga sebagai langkah memproteksi kekayaan budaya daerah untuk mengoptimalisasi pengembangan kerajinan batik itu sendiri.